ELPI Raih Kontrak Rp582,76M di H1 2026, Bidik Ekspansi Internasional
:
0
Salah satu armada milik PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI). Foto: ELPI
EmitenNews.com - PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) membukukan total kontrak mencapai Rp582,76 miliar di semester I 2026. Kontrak tersebut terdiri dari kontrak jangka panjang dan pendek, baik di lingkup domestik maupun internasional.
Direktur Keuangan ELPI, Efilya Kusumadewi menerangkan, jumlah kontrak yang dibukukan dari domestik mencapai Rp276,04 miliar, dan kontrak internasional senilai Rp306,71 miliar, sehingga total nilai kontrak yang diperoleh ELPI mencapai Rp582,76 miliar.
Selain itu, Efilya juga menyampaikan kinerja perseroan hingga akhir Juni 2026. Pendapatan Perseroan per Juni 2026 tercatat sebesar Rp430,35 miliar, dibandingkan Rp543,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perolehan kontrak pada semester I 2026 belum seluruhnya dapat tercermin dalam pendapatan periode berjalan, mengingat sebagian kontrak yang diperoleh merupakan kontrak jangka panjang yang pengakuan pendapatannya berlangsung secara bertahap sesuai dengan periode pelaksanaan kontrak.
“”Karakteristik kontrak jangka panjang seperti ini menjadi salah satu keunggulan segmen offshore dibandingkan dry bulk, karena skema kontrak dengan K3S (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) umumnya lebih stabil terhadap fluktuasi harga komoditas maupun gejolak pasar jangka pendek,” jelas Efilya dalam keterangan resmi, Selasa (18/8).
Menanggapi itu, Direktur Utama ELPI, Eka Taniputra menegaskan bahwa perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja ke depan. Salah satunya melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue.
”Kami memandang koreksi kinerja pada semester ini sebagai bagian dari dinamika eksternal yang memang tidak dapat dihindari oleh pelaku industri maritim secara umum,” ungkap Eka.
Selain itu, dinamika geopolitik yang terjadi di Timur Tengah turut memengaruhi dinamika harga minyak dan keputusan investasi di sektor energi, kendati perseroan tidak terdampak secara langsung.
Namun, hal itu berdampak pada beberapa proyek yang mengalami penundaan hingga pembatalan. Termasuk adanya peningkatan biaya operasional terutama di Asia Pasifik yang mencapai USD50, lebih tinggi dibandingkan Middle East karena proses eksplorasi yang lebih kompleks.
”Namun demikian, dengan selesainya proses HMETD pada 23 Juli 2026, di mana Perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp739,34 miliar. Selama periode perdagangan HMETD pada 10–16 Juli 2026, sebanyak 99,90% saham yang ditawarkan telah berhasil diserap oleh investor. Sisa saham kemudian terserap seluruhnya melalui periode penjatahan pemesanan tambahan (pooling) pada 21 Juli 2026, dengan tingkat oversubcription mencapai 39,79 kali,” ungkap Eka.
Ia optimistis rencana rights issue juga mampu mendongkrak kinerja perseroan seiring rencana ekspansi usaha, termasuk penambahan serta peremajaan aramada.
Related News
Kinerja BYAN yang Membuat H Isam Rela Mengeluarkan Rp300 T
4 dari 5 Saham Konglo Haji Isam Sentuh ARA, Cek Kinerja Terbaru 1H2026
Jadi Anggota Terbaru HSC, Intip Perkembangan Terbaru Kinerja MDIA
Saham-Saham H Isam Melenggang ke Zona Hijau, Kompak Menguat!
Trio Saham Ini Dijebloskan UMA: 1 ARB, 1 Flat, 1 Ngacir!
Nasib MDIA; Dari Suspensi hingga Dicap HSC oleh BEI





