Freeport Tunda Produksi Tambang Grasberg, Ini Alasannya
:
0
Tambang Grasberg. (Foto: ESDM)
EmitenNews.com - Perusahaan tambang terkemuka PT Freeport Indonesia memutuskan untuk menunda dimulainya kembali produksi penuh tambang Grasberg yang direncanakan tahun depan. Alasannya karena masih dalam proses pemulihan dari kecelakaan fatal tahun lalu yang melumpuhkan rantai pasokan tembaga global.
Sebelumnya, Freeport Indonesia menargetkan pengoperasian penuh Grasberg pada akhir tahun 2027. Tapi
seperti dilansir Mining.com perusahaan tersebut Kamis mengatakan bahwa mereka sekarang memperkirakan kompleks raksasa di provinsi Papua Tengah akan kembali beroperasi penuh pada awal tahun 2028.
Seorang juru bicara Freeport kepada Reuters menjelaskan bahwa penundaan pengoperasian Grasberg ini disebabkan oleh "pekerjaan tambahan pada infrastruktur logistik dan penanganan bijih" di tambang bawah tanah yang dilanda aliran lumpur hebat pada bulan September.
Insiden yang terjadi di bagian tambang bawah tanah Block Cave di Grasberg ini mengakibatkan kematian tujuh pekerja, memaksa Freeport untuk segera menghentikan aktivitas penambangan dan menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada pengiriman.
Dampak Penundaan
Penghentian sementara tersebut semakin menambah tekanan pada pasar tembaga global, karena Grasberg menyumbang sekitar 3% dari pasokan tembaga dunia pada saat itu, dengan produksi sekitar 1,7 juta pon logam tersebut setiap tahunnya. Grasberg juga merupakan produsen emas utama, dengan produksi tahunan sebesar 1,4 juta ons.
Sebagai bagian dari proses pemulihan, Freeport telah menyusun rencana untuk memulai kembali secara bertahap, dimulai dengan area yang tidak terkena dampak tanah longsor. Zona Deep Mill Level dan tambang bawah tanah Big Gossan telah beroperasi kembali tahun lalu, sementara sebagian GBC kembali beroperasi bulan lalu.
Awalnya, perusahaan tambang tersebut berencana untuk meningkatkan kapasitas hingga 85% pada pertengahan tahun ini, kemudian 100% pada akhir tahun 2027. Namun, dalam laporan pendapatan terbarunya , perusahaan tersebut mengatakan bahwa laju menuju produksi penuh akan melambat secara signifikan, dan sekarang menargetkan kapasitas 65% pada paruh kedua tahun 2026, 80% pada pertengahan tahun 2027, dan hampir kapasitas penuh pada akhir tahun 2027.
Operasi saat ini berada dalam fase pemulihan setelah insiden tambang bawah tanah, “dengan produksi saat ini sekitar 40% hingga 50%,” kata kepala eksekutif Freeport Indonesia, Tony Wenas, dalam siaran pers pada hari Kamis. “Perusahaan menargetkan kembali ke kapasitas penuh pada awal tahun 2028,” tambahnya.
Akibat penundaan tersebut, perusahaan memperkirakan produksi tembaga Grasberg tahun ini akan mencapai 700.000 pon, turun dari target 1 miliar pon yang telah diprediksi dalam laporan pendapatan kuartal keempatnya.(*)
Related News
Gegara Debt Collectornya Prank Damkar, Dirut Indosaku Kena Denda OJK
28,4 Persen Energi India dari Tenaga Surya, Indonesia Berapa?
BTN Dongkrak Bahasa Inggris dan Hospitality UMKM Samosir Naik Kelas
Pekan Ini, DSSA, INCO, dan AADI Hiasi Saham Top Losers
Simak! 10 Saham Top Gainers dalam Sepekan
Masuk Musim Giling, Bapanas - APGI Komit Stabilkan Harga Gula Konsumsi





