Garuda Indonesia (GIAA) Masih Catat Rugi di Sepanjang 2025
:
0
Potret pesawat terbang milik emiten Garuda Indonesia (GIAA).
EmitenNews.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. masih mencatatkan tekanan kinerja sepanjang tahun buku 2025. Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$322,48 juta, membengkak 343,52 persen atau setara 4,5 kali lipat secara year on year (yoy) dari rugi US$72,70 juta pada 2024.
Pelebaran kerugian ini berjalan seiring pendapatan usaha yang tergerus 5,85 persen yoy menjadi US$3,21 miliar, dari US$3,41 miliar pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama Garuda Indonesia dalam rilis resminya dikutip Senin (23/3/2026), Glenny Kairupan mengatakan, “Garuda Indonesia optimistis dapat mempercepat langkah menuju fase turnaround (berbalik dari rugi) yang lebih solid, sekaligus memperkuat perannya sebagai national flag carrier yang kompetitif.”
Sebelumnya, perseroan juga telah menerima suntikan dana masuk pemerintah melalui Danantara sebesar Rp23,7 triliun pada akhir 2025 untuk mendukung perawatan armada, restrukturisasi keuangan, serta penguatan likuiditas.
Dengan catatan, GIAA kini sahamnya didominasi pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dengan porsi sekitar 91,11 persen pasca suntikan modal tersebut dan sisanya sebagai free float.
Penurunan terutama topline terjadi pada penerbangan berjadwal yang turun menjadi US$2,51 miliar dari US$2,74 miliar, seiring tekanan jumlah penumpang dan yield.
Berlanjut, beban operasional belum sepenuhnya mereda. Total beban usaha tercatat US$3,10 miliar, relatif flat dibandingkan US$3,11 miliar pada 2024. Namun, beban pemeliharaan dan perbaikan melonjak menjadi US$661,36 juta dari US$536,95 juta, diikuti kenaikan beban tiket, penjualan, dan promosi menjadi US$192,70 juta dari US$179,30 juta.
Kondisi tersebut mendorong rugi usaha melebar menjadi US$468,21 juta, naik 20,02 persen yoy dari US$390,07 juta. Tekanan makin dalam setelah beban keuangan meningkat 9,56 persen menjadi US$525,79 juta, sementara kontribusi laba entitas asosiasi menyusut 23,5 persen menjadi US$5,64 juta.
Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs sebesar US$1,20 juta, berbalik dari laba US$18,04 juta pada tahun sebelumnya. Meski pendapatan keuangan meningkat menjadi US$22,72 juta, hal tersebut belum mampu menahan tekanan terhadap kinerja bottom line.
Melihat sisi neraca, total aset meningkat 12,28 persen menjadi US$7,43 miliar, ditopang lonjakan kas dan setara kas menjadi US$943,40 juta dari US$219,17 juta. Total liabilitas turun 7,91 persen menjadi US$7,33 miliar, sementara ekuitas berbalik positif menjadi US$91,91 juta dari sebelumnya defisit US$1,35 miliar.
Related News
BAF Siapkan Rp244,3 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Juni 2026
BFI Finance Minta Restu Alihkan 290 Juta Saham Treasury via MESOP
Konflik Timur Tengah Tekan Industri Plastik, Ini Strategi Panca Budi
Penjualan Menyusut, Laba Bersih DEPO Ikut Tergerus pada Kuartal I-2026
Pengendali SMLE Lepas 14,64 Juta Saham, Raup Rp1,97 Miliar
Bamsoet Masuk Lippo Karawaci (LPKR), Jadi Apa Dia?





