Gempa M 7,6 Landa Sulut-Malut, Ibadah Jumat Agung di Halaman Gereja
Gempa bumi magnitudo 7,6 di Bitung, Sulawesi Utara yang terasa hingga di Kota Ternate, Maluku Utara pada Kamis (2/4/2026), menimbulkan sejumlah kerusakan parah. dok. SINDOnews.Sa
EmitenNews.com - Gempa bumi magnitudo 7,6 di Bitung, Sulawesi Utara yang terasa hingga di Kota Ternate, Maluku Utara pada Kamis (2/4/2026), menimbulkan sejumlah kerusakan parah. Salah satunya di daerah terdampak, kecamatan pulau terluar, Pulau Batang Dua. Ratusan rumah rusak berat, dan ringan, belum terhitung enam gereja di Kecamatan Batang Dua. Karena itu, ibadah Jumat Agung, akan digelar di halaman depan gereja.
Kepada pers, Pendeta GKPMI Jemaat Imanuel di Kelurahan Lelewi, Pendeta Otniel Surabi, mengatakan dari enam gereja terdampak, dua rusak berat,dan empat lainnya rusak ringan, kondisinya sudah tidak layak untuk tempat ibadah. Beberapa bagian tembok dan plafon gedung gereja ambruk.
Untuk itu, ibadah Jumat Agung sebagai peringatan wafatnya Yesus Kristus bakal dilakukan di depan gereja. Menurut Pendeta Otniel, warga Kelurahan Lelewi mengungsi ke gereja pasca-gempa terjadi. Kemudian, warga bersama jemaat Gereja Imanuel melakukan pembersihan, dan membangun tenda untuk ibadah Jumat Agung.
"Warga yang kebetulan mengungsi di depan gereja gotong royong bersih-bersih, dan mendirikan tenda untuk pelaksanaan ibadah Jumat Agung," kata Otniel melalui sambungan telepon, Kamis.
Pendeta Otniel menceritakan, bagian dinding bangunan gereja ambruk saat terjadinya gempa bumi. Material berhamburan dalam gereja bahkan menimpa alat musik milik gereja. "Besok kita ibadah di depan gereja, kita pakai gitar saja. Soalnya semua alat musik rusak tertimpa beton yang ambruk."
Sang pendeta menggambarkan, bencana gempa bumi, Kamis pagi itu, terasa paling kuat. Bahkan, air laut sempat naik tapi tidak begitu tinggi. Saat itu, menurut dia warga berkumpul di dermaga, karena kapal tiba di Batang Dua dari Bitung dan akan menuju rute selanjutnya ke Kota Ternate. Transportasi dari dan ke Batang Dua dapat ditempuh menggunakan kapal feri dan kapal Sabuk Nusantara 86.
"Jadi saat gempa warga banyak yang berkumpul di pantai dan di dermaga. Kebetulan ada kapal Sabuk Nusantara 86 masuk di dermaga Batang Dua," katanya.
Warga benar-benar panik setelah goncangan gempa, dan melihat air laut sempat surut dan naik kembali. Mereka lari menjauhi pantai dan menuju ke daerah ketinggian. Tapi air naik sedikit dan tidak bertambah lagi.
Setelah gempa dan peringatan tsunami berakhir warga yang rumahnya rusak terpaksa harus mengungsi di depan gereja. "Belum tahu jumlah pastinya, tadi diperkirakan ada ratusan rumah rusak, di antaranya rusak berat dan ringan. Kalau gereja enam, dua rusak berat dan empat rusak ringan," kata Otniel.
Dampak gempa yang dirasakan di Kota di Ternate dengan intensitas V-VI MMI yakni getaran dirasakan oleh semua penduduk
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan sejumlah kerusakan akibat gempa M 7,6 di wilayah Sulawesi Utara, dan Maluku Utara pada Kamis (2/4/2026) pagi. Dampak gempa yang dirasakan di Kota di Ternate dengan intensitas V-VI MMI yakni getaran dirasakan oleh semua penduduk. Setelah itu sempat terjadi 93 kali gempa susulan.
"Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan," tutur Faisal dalam rapat koordinasi dengan BNPB di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (2/4/2026).
Kemudian, di Kecamatan Ibu dengan intensitas V MMI, getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk sehingga membuat banyak warga terbangun dari tidurnya.
"Manado dengan intensitas IV-V MMI, getarannya juga dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun. Di Gorontalo Bone Bolango, Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI, getaran dirasakan nyata dalam rumah seakan-akan ada truk berlalu," ucapnya.
Sedangkan di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato dengan intensitas II-III MMI, getaran gempa hanya dirasakan oleh beberapa orang dan membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Faisal menyebut, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi ini merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault."
BMKG akan memasang alat sensor gempa di wilayah di Ternate, Maluku Utara (Malut) untuk menangkap data seismik yang lebih akurat usai terjadi gempa yang dirasakan di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) hingga Malut.
Related News
Bareskrim Polri Tetapkan Tersangka Keempat Kasus Penipuan dan TPPU DSI
Kasus Pengerukan Tanjung Perak Mulai Disidangkan, Rugikan Negara Rp83M
Geledah Rumah Politikus PDI Perjuangan Ini, KPK Beberkan Alasannya
Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka
Menyusul ASN, Menaker Rilis Edaran WFH Bagi Swasta, BUMN dan BUMD
Dari Jepang dan Korea, Prabowo Kantongi Komitmen Rp575 Triliun





