EmitenNews.com - Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan insentif bea masuk 0 persen untuk bahan baku plastik guna menekan biaya logistik dan memitigasi risiko inflasi barang impor (imported inflation). Langkah strategis ini ditempuh untuk menopang daya saing sektor industri manufaktur nasional yang mulai kembali ke zona ekspansi.

Rencana pemberian fasilitas bea masuk 0 persen bagi bahan baku plastik ini disiapkan untuk melengkapi kebijakan serupa yang telah berjalan pada komoditas LPG industri serta suku cadang pesawat. Kebijakan ini bertujuan menjaga kepastian pasokan input produksi sekaligus efisiensi rantai pasok industri pengolahan di dalam negeri.

"Dari sisi produksi dan distribusi, Pemerintah terus mendorong efisiensi biaya logistik sekaligus memitigasi risiko imported inflation melalui bea masuk 0% untuk LPG industri dan suku cadang pesawat, serta menyiapkan kebijakan serupa untuk bahan baku plastik," tulis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam siaran persnya pada Kamis (1/10).

Dukungan insentif ini diberikan sejalan dengan kondisi makroekonomi domestik yang tetap stabil. Realisasi inflasi nasional pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan (yoy), tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Stabilitas ini juga ditunjukkan oleh melandainya inflasi inti ke level 2,84 persen (yoy).

Guna memperkuat ketahanan ekonomi di kuartal IV-2026, pemerintah terus menggabungkan instrumen insentif industri dengan program perlindungan sosial. Kebijakan tersebut mencakup penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan untuk periode Oktober hingga Desember 2026, serta percepatan distribusi SPHP beras medium oleh Perum Bulog.

Di sisi eksternal, kinerja perdagangan internasional Indonesia juga mencatatkan hasil positif. Neraca perdagangan nasional membukukan surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Capaian ini terutama ditopang oleh surplus sektor nonmigas yang mencapai USD28,54 miliar, dengan kontributor utama dari ekspor besi dan baja senilai USD19,18 miliar, CPO USD17,75 miliar, serta batu bara USD16,58 miliar.

Sementara itu, dari sisi impor, struktur impor Indonesia periode Januari hingga Agustus 2026 masih didominasi oleh kelompok bahan baku/penolong senilai USD133,38 miliar dan barang modal sebesar USD36,74 miliar. Kedua kelompok tersebut mencakup 91,3 persen dari total impor nasional.

Tingginya impor mesin dan peralatan mekanis yang naik 15,26 persen serta peralatan elektrik yang tumbuh 22,94 persen mengindikasikan kuatnya aktivitas produksi serta investasi domestik. Oleh karena itu, ketersediaan bahan baku terjangkau seperti plastik menjadi krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan manufaktur hingga akhir tahun.(*)