EmitenNews.com - Ashmore Indonesia (AMOR) semester pertama berakhir 31 Desember 2025 mengemas laba bersih Rp33,36 miliar. Susut 9 persen dari episode sama tahun sebelumnya Rp36,47 miliar. Dengan demikian, laba per saham turun ke level Rp15 dari sebelumnya Rp16. 

Total pendapatan usaha Rp140,72 miliar, turun 3,25 persen dari posisi sama tahun sebelumnya Rp145,46 miliar. Itu dari pendapatan kegiatan manajer investasi Rp140,02 miliar, menciut dari Rp145,3 miliar, dan imbal hasil dari efek bersifat utang Rp703 juta, naik dari Rp167 juta. 

Total beban usaha Rp107,76 miliar, bengkak dari Rp103,62 miliar. Beban terbesar embalan jasa agen penjual reksa dana Rp53,19 miliar, naik dari Rp49,87 miliar. Beban kepegawaian Rp33,05 miliar, turun dari Rp34,23 miliar. Beban pemeliharaan sistem Rp7,11 miliar, naik dari Rp6,5 miliar. 

Laba usaha Rp32,95 miliar, mengalami perosotan dari Rp41,84 miliar. Total pendapatan lain-lain Rp8,57 miliar, melejit dari Rp3,8 miliar. Itu meliputi pendapatan lainnya Rp7,52 miliar, turun dari Rp7,53 miliar. Beban lainnya Rp1,2 miliar, susut dari Rp1,25 miliar. Untung selisih kurs Rp2,54 miliar, melejit dari minus Rp2,11 miliar. 

Total ekuitas tercatat Rp274,07 miliar, menciut dari 30 Juni 2025 senilai Rp281,46 miliar. Jumlah liabilitas Rp88,91 miliar, menyusut dari akhir Juni 2025 sebesar Rp109,02 miliar. Total aset Rp362,98 miliar, menciut dari akhir tahun sebelumnya Rp390,49 miliar. 

Ronaldus Gandahusada Presiden Direktur Ashmore Indonesia mengatakan Ashmore Indonesia mencatat pertumbuhan kuat selama tiga bulan terakhir dengan peningkatan asset under management (AuM) 37 persen menjadi Rp34,4 triliun, didorong arus masuk bersih Rp8,3 triliun. Itu menghasilkan pertumbuhan laba inti 13 persen dibanding kuartal sebelumnya, dan perseroan memasuki tahun 2026 dengan momentum baik.

”Kami tetap optimistis terhadap kinerja perekonomian Indonesia, didukung penurunan suku bunga. Ashmore Indonesia berada pada posisi baik untuk memanfaatkan peluang investasi yang timbul dari prospek ini, situasi geopolitik internasional makin kompleks, memberi pertumbuhan, nilai lebih lanjut bagi klien, dan pemegang saham,” tegasnya. (*)