EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak stabil pada Selasa (1/9/2026). Pergerakan ini terjadi setelah indeks utama Wall Street terkoreksi akibat kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak mentah yang dipicu konflik baru di Timur Tengah.

Kenaikan biaya energi tersebut kembali memicu kekhawatiran inflasi serta memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve pada September 2026. Situasi ini berdampak pada meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan laporan Trading Economics, pada sesi perdagangan reguler hari Senin, Indeks Dow Jones merosot 0,7%, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah 0,33% dan 0,12%. Sebanyak 9 dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dipimpin oleh sektor jasa komunikasi, utilitas, dan industri.

Wall Street kini memasuki bulan September yang secara historis merupakan periode penuh tantangan bagi pasar saham, setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan moderat sepanjang Agustus. Investor kini mencermati data aktivitas manufaktur dan jasa terbaru serta laporan pekerjaan AS bulan Agustus yang akan dirilis pada Jumat mendatang.

Gejolak di Wall Street dan lonjakan harga energi ini turut membayangi pasar keuangan Indonesia. Kenaikan imbal hasil obligasi AS serta penguatan ekspektasi bunga The Fed berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).(*)