EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia turun di bawah 72 dolar AS per barel pada Jumat akibat meningkatnya aktivitas pengiriman di Selat Hormuz meskipun terjadi insiden serangan kapal di lepas pantai Oman.

Pantauan Emitennews.com dari laman Oilprice.com, harga minyak West Texas Intermediate atau WTI Crude berada di level USD71,71 per barel, melemah 0.29%, sementara Brent turun 0,33% ke level USD75,01 per barel. Penurunan ini memangkas sebagian keuntungan dari sesi perdagangan sebelumnya.

Para investor kini tengah menilai situasi di Selat Hormuz setelah sebuah kapal komersial terkena proyektil tidak dikenal. Peristiwa tersebut sempat menghidupkan kembali kekhawatiran keamanan dan memicu ketakutan bahwa Iran akan mengendalikan lalu lintas di jalur perairan kunci tersebut. Akibat insiden ini, beberapa kapal komersial memilih berbalik arah.

Meski terjadi gangguan terbaru, aliran minyak dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz justru mencapai kecepatan tercepat sejak konflik dimulai. Produsen di Timur Tengah terus meningkatkan volume produksi mereka, meskipun saat ini menghadapi kesulitan dalam mengamankan jumlah kapal tanker yang cukup untuk mengangkut pasokan minyak mentah tambahan tersebut.

Di sisi lain, upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terus berjalan. Washington dan Teheran tetap bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan permanen guna mengakhiri konflik, walaupun pembicaraan mengenai isu-isu kunci seperti kebijakan nuklir diperkirakan akan tetap berjalan berlarut-larut.

Penurunan harga komoditas energi global ini berpotensi memberikan dampak langsung bagi perekonomian Indonesia, khususnya terhadap penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri serta postur belanja subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hingga akhir pekan ini, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan penurunan harga mingguan selama tiga minggu berturut-turut.(*)