IHSG membentuk rising window, sejalan dengan penguatan Jumat (8/7). Pola ini diikuti terbentuknya golden cross pada MACD dan kenaikan volume transaksi. Hal-hal tersebut mengindikasikan potensi rebound lanjutan di perdagangan Senin (11/7).
"Akan tetapi, tekanan terhadap IHSG mungkin cukup besar di awal perdagangan Senin (11/7). Pasalnya pasar diperkirakan merespon negatif realisasi U.S. Non Farm Pyrolls di Juni 2022, meski U.S. Unemployment Rate masih bertahan di 3.6% di Juni 2022," kata Valdy Kurniawan Analis Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, Inflasi di Tiongkok diperkirakan naik ke 2.4% yoy di Juni 2022 dari 2.1% yoy di Mei 2022. Meski begitu, China Producer Price Index (PPI) diperkirakan turun ke 6% yoy di Juni 2022 dari 6.4% di Mei 2022. Sebelumnya, indeks manufaktur Tiongkok (NBS) naik ke 50.2 di Juni 2022. Data-data ini mengindikasikan bahwa tekanan harga bahan baku produksi mereda di Tiongkok di Juni 2022.
Dengan demikian, pelaku pasar dapat kembali memperhatikan saham-saham komoditas dan pelayaran, terutama LSIP, SSMS, KRAS, INCO, UNTR dan SMDR.
Pelaku pasar juga dapat memperhatikan peluang technical rebound lanjutan jangka pendek pada ARTO, BBCA, BBRI, BBKP dan PNBS seiring pergerakan nilai tukar Rupiah yang terjaga di bawah level psikologis Rp15,000, jelang FOMC the Fed pada 15 Juni 2022.
Related News
IHSG Menguat ke 6.093, Lima Saham Ini Catat Transaksi Tertinggi
Kembali Memantul, IHSG Sesi Siang Mendarat di 6.052 Naik 0,35%
Dua Dekade IRN, Dorong Inovasi Pangan Lokal
Smelter NPI Overload, Legislator Dukung Moratorium Nikel
IHSG Jumat Pagi (9/10) Rebound Tipis Usai Kemarin Anjlok 1,88%
Trump Tahan Serangan, IHSG Tetap Tertekan





