EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka volatil dan sempat melejit di awal pekan Senin (29/6/2026). Pukul 09.00 WIB, indeks naik 35,895 poin atau 0,61% ke level 5.932,029. Sebanyak 201 saham menguat, 103 melemah, dan 309 stagnan. Nilai transaksi Rp110,447 miliar dengan volume 142,230 juta saham.

Penguatan pembukaan ini berbanding terbalik dengan penutupan Jumat lalu yang anjlok 1,72% ke 5.896,13.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat IHSG dan LQ45 menjadi indeks dengan kinerja terlemah secara global di 1H26, masing-masing turun 31,8% dan 31,0% YTD. Pelemahan sejalan dengan Rupiah yang susut 7,5% YTD ke 17.918 per USD Jumat lalu.

"Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada rilis inflasi Juni dan neraca perdagangan Mei," tulis Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto Senin (29/6).

Rully memperkirakan surplus neraca dagang tetap solid di atas USD1 miliar karena normalisasi impor migas, namun inflasi bertahan di 3,1% YoY.

Dengan tekanan Rupiah yang masih tinggi, Mirae menilai "masih ada peluang kembali naiknya BI rate".

Foreign net buy Jumat tercatat minus Rp537,2 miliar. Saham paling banyak dibeli asing ialah BBCA, DSSA, BBRI, AMMN, ANTM. Paling banyak dijual yakni, BMRI, EMAS, ASII, BRPT, TLKM.

Secara teknikal, Muhammad Nafan Aji dari Mirae menyebut IHSG punya "restricted downside potential". Support di 5.848 & 5.723, resistance 5.972 & 6.127.

Untuk saham, BBCA disebut punya potensi uptrend dengan target 6.400, 6.550, hingga 7.900. Support 5.825 & 5.525. INTP dan SCMA diproyeksi pullback dengan target INTP 4.310-4.690 dan SCMA 214-286.