Masih Tunda Penyesuaian Indeks, FTSE Ingatkan Bakal Tendang Saham HSC
:
0
Penyedia indeks global, FTSE Russell. Foto: EmitenNews
EmitenNews.com - FTSE Russell masih menunda promosi kendaikan kelas indeks, kenaikan free float dan bobot saham baru untuk Indonesia. Keputusan itu berlaku hingga setidaknya tinjauan berikutnya di Desember 2026 untuk memantau lebih lanjut efektivitas reformasi pasar modal Indonesia.
Penundaan ini dilakukan untuk memperpanjang masa observasi terhadap efektivitas reformasi transparansi pasar modal yang sedang dijalankan oleh otoritas pasar modal Indonesia.
Langkah pembekuan atau penundaan (freeze) ini merupakan respons berkelanjutan FTSE Russell terhadap isu transparansi, likuiditas riil, serta dinamika suspensi atau pembekuan saham di pasar modal Indonesia.
"Menindaklanjuti pemberitahuan Indonesia - Index Treatment yang diterbitkan pada 09 Februari 2026 dan pemberitahuan Indonesia – Index Treatment for the June 2026 Index Review yang diterbitkan pada 13 Mei 2026, FTSE Russell terus memantau perkembangan pasar dan mempertahankan komunikasi berkelanjutan dengan pemangku kepentingan pasar terkait sebagau bagian dari penilaian perlakuan indeks untuk sekuritas terdaftar di Indonesia," tulis FTSE.
Meski tidak ada kenaikan kelas dan saham, FTSE tetap akan mengevaluasi saham-saham yang beresiko tinggi, seperti saham yang teridentifikasi High Shareholding Concentration.
"Oleh karena itu, FTSE Russell akan menghapus efek dengan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi yang terdampak pada harga pasar pada tinjauan September 2026, berlaku mulai pembukaan pasar pada Senin, 21 September 2026. FTSE Russell akan memantau likuiditas sekuritas yang terdampak untuk memastikan harga penghapusan dapat direplikasi," tukas FTSE.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai keputusan FTSE tersebut menjadi sentimen cukup positif karena mengakui langkah reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO.
Kendati harus diakui, posisi freeze tidak membuka peluang adanya saham baru atau kenaikan krlas indeks pada September mendatang.
"Risiko tekanan jual paling besar berada pada saham yang masuk HSC dan akhirnya dihapus. Review Desember 2026 menjadi momentum apakah perubahan indeks Indonesia bisa kembali berjalan penuh," ujarnya
Related News
Gerak IHSG Tersandera Lonjakan Utang Luar Negeri
Proyeksi IHSG (19/8), Pasar Cermati Hasil RDG BI & Review FTSE Russell
Low Tuck Kwong Jadi Orang Terkaya Nomor 1 RI, Intip Kekayaannya!
IHSG Menguat ke 6.449, Emiten Haji Isam Terbang, Big Banks Tumbang
Indo Premier Hadirkan XGLD, Cara Baru Nabung Emas Mulai 0.1 Mg
Analis Prediksi Nasib Freeze MSCI-FTSE bagi Saham RI, Kapan Dibuka?





