EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street ditutup melemah signifikan. Itu dipicu sinyal pasar obligasi soal kekhawatiran kalau The Fed terlambat menyikapi kenaikan inflasi setelah pada pertemuan rutin berakhir kemarin kembali mempertahankan suku bunga acuan.

Keputusan The Fed tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melonjak 7 bps level atas 4,67 persen, dan tenor 30 tahun naik 10 bps ke level atas 5,2 persen imbal hasil tertinggi sejak 2007. Meski The Fed akhirnya mempertahankan suku bunga acuan namun ada tiga anggota menginginkan kenaikan.

Gubernur The Fed Kevin Warsh gagal untuk menyakinkan investor pasar obligasi mengenai perbedaan tersebut. Sementara itu, tambahan sentimen negatif juga datang dari lonjakan harga minyak mentah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melakukan serangan besar ke Iran.

Pelemahan indeks bursa Wall Streeet seiring lonjakan imbal hasil obligasi usai The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuan diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Banyak laporan kinerja kuangan emiten rilis, dan harga mayoritas komoditas naik berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah. Sepanjang perdagangan hari ini Kamis, 29 Juli 2026 akan menyusuri kisaran support 6.000-5.910, dan resistance 6.180-6.270. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham AKRA, ESSA, BFIN, BRPT, WIIM, dan HMSP. (*)