EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin kembali ditutup menguat 0,94 persen menjadi 5.328 setelah sempat melemah hingga level 5.185. Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan rebound untuk menguji resistance level 5.400-5.490. Itu seiring indikator stochastic RSI membentuk golden cross, dan MACD menunjukkan penyempitan histogram negatif.

Di luar perkiraan rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate 5,75 persen, dan suku bunga lending facility 6,50 persen. Namun, BI menaikkan suku bunga deposit facility 25 bps menjadi 5,00 perssen. Mendongkrak kebijakan insentif instrumen domestic non deliverable forward untuk menarik modal asing, dan menjaga stabilitas Rupiah.

Kebijakan moneter itu, tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah, dan upaya menjaga pencapaian sasaran inflasi. Nah, guna memperkuat kecukupan likuiditas Rupiah, BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara rata-rata bank umum konvensional menjadi 7 persen dari semula 9 persen.

Penyesuaian secara bertahap dari 9 persen menjadi 8 persen berlaku mulai 1 November 2026, dan turun dari 8 persen menjadi 7 persen berlaku mulai 1 Desember 2026. Untuk Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah diturunkan dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen, dengan tahapan turun dari 7,5 persen menjadi 6,5 persen berlaku 1 November 2026, dan turun dari 6,5 persen menjadi 5,5 persen berlaku 1 Desember 2026.

Berdasar data dan fakta itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Indofood Sukses Makmur (INDF), Inndosat Ooredoo (ISAT), Gudang Garam (GGRM), Era Media (DOOH), dan HM Sampoerna (HMSP). (*)