EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street ditutup bervariasi mayoritas melemah. Itu seiring momentum kenaikan saham produsen chip meredup. Saham Micron Technology hari sebelumnya menguat 10 persen, kemarin mengalami koreksi 1,41 persen, dan Broadcom susut 1,12 persen.

Pada awal sesi, indeks sempat kompak menguat menyusul harga minyak mentah turun dipicu harapan akan berakhirnya konflik Timur Tengah secara permanen. Itu setelah presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kesepakatan damai dengan Iran bisa tercapai dalam dua atau tiga hari lagi.

Selain itu, Menteri Energi AS Christ Wright menyebut lalu lintas Selat Hormuz meningkat signifikan turut menekan harga minyak mentah. Dengan koreksi indeks bursa Wall Street, harga sebagian besar komoditas, keputusan pemerintah menaikkan harga pertamak 32 persen, dan aksi jual masif investor asing diprediksi menjadi sentimen negatif pasar.

Semenara itu, dinaika suku bunga acuan untuk menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 5.585-5.425, dan resistance 5.910-6.070.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Telekomunikasi Indonesia alias Telkom (TLKM), Timah (TINS), Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Syariah Indonesia alias BSI (BRIS), dan Merdeka Copper Gold (MDKA). (*)