IHSG Memburuk, Phintraco Sodorkan Sejumlah Saham Ini

Petugas kebersihan menyisir teras depan Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir pekan lalu melemah 3,31 persen menjadi 6.271. Menyusul koreksi itu, sejak awal tahun alias year to date (YTD) indeks telah terpangkas 11 persen. Pelemahan itu, sejalan akumulasi jual investor asing makin menggila.
Secara teknikal, terbentuk pelebaran negative slope pada MACD, sehingga IHSG masih berpotensi uji support 6.200. Akumulasi jual investor asing sebelumnya sudah pernah terjadi beberapa kali dalam 10 tahun terakhir. Nilai akumulasi net sell investor asing paling dekat padaadal 2015 dengan koreksi indeks 12,13 persen.
Dengan asumsi kembali terjadi net sell investor asing pada perdagangan hari ini, Senin, 28 Februari 2025, nilai akumulasi net sell investor asing sepanjang 1 Januari 2025 sampai 28 Februari 2025 diperkirakan mencapai level yang sama dengan 2015 tersebut.
Sementara pelemahan Indeks sudah mencapai 11 persen, hampir sama dengan besaran koreksi pada 2015 tersebut. Dengan demikian, saat ini Indeks terindikasi mengalami pelemahan relatif lebih signifikan dibanding akumulasi aksi jual dibanding dengan kondisi rata-rata sejak 2013.
Sehingga, terdapat indikasi kondisi saat ini indeks tergolong murah. Akan tetapi, ada indikasi pula tekanan jual asing terlalu kuat memicu reaksi pelaku pasar tersebut. Artinya, pasar masih perlu berhati-hati dengan potensi pelemahan lanjutan apabila aksi jual signifikan investor asing masih berlanjut.
Nah, dari data ekonomi, pada awal pekan depan Indonesia akan merilis data inflasi Februari 2025. Inflasi diperkirakan lebih rendah menjadi 0,5 persen YoY edisi Februari 2025 dibanding Januari 2025 di level 0,76 persen.
Itu seiring kebijakan diskon tarif listrik diberikan pemerintah untuk Januari-Februari 2025 telah berakhir. Inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 2,4 persen YoY edisi Februari 2025 dibanding periode Januari 2025 di level 2,36 persen.
Menilik data itu, Phintraco Sekuritas merekomendasikan investor untuk mengoleksi sejumlah saham berikut. Yaitu, Indofood Sukses Makmur (INDF), London Sumatera (LSIP), Aneka Tambbang (ANTM), Vale Indonesia (INCO), dan J Resources (PSAB). (*)
Related News

Maanfaatkan Pasar Mamin, ITPC Meksiko Fasilitasi Business Matching

Malaysia Cabut Bea Masuk Anti Dumping Serat Selulosa Asal Indonesia

PLN Pertahankan Status Siaga Kelistrikan Hingga 11 April

Kemenperin Rilis Peta Jalan Hilirisasi untuk Pacu Swasembada Aspal

Investasi Tembus Rp206 Triliun, Industri Agro Serap 9,3 Juta Naker

Diskon Biaya Listrik 50 Persen Berakhir, Maret Berlaku Tarif Normal