EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) tercatat sempat terjatuh sedalam 351,90 poin atau 5,68% pada pukul 14.46 WIB ke level 5.843,52. Level tersebut juga menjadi titik terendah dalam sepanjang tahun 2026.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi dalam pernyataannya kepada EmitenNews memberikan sorotan baru atas tiga isu utama yang menekan IHSG pada kesempatan kali ini. Ketiga faktor itu dinilai memicu sovereign risk re-rating terhadap Indonesia secara simultan, bukan sekadar reaksi teknikal.

Pertama, Wafi menilai peringkat Baa2 outlook negatif yang diberikan Moody’s Ratings untuk PT Danantara Investment Management (DIM) menjadi sinyal serius.

“Danantara kini resmi masuk radar lembaga pemeringkat global dengan outlook yang langsung negatif, mencerminkan kekhawatiran terhadap transparansi tata kelola, ketidakjelasan proyek investasi, dan potensi beban fiskal dari mekanisme penyertaan modal negara via APBN,” ujarnya, Rabu (3/6).

Sebelumnya, Moody’s menetapkan peringkat emiten Baa2 outlook negatif untuk DIM tepat pada Rabu (3/6). Peringkat itu diselaraskan dengan peringkat sovereign Indonesia Baa2 negatif. Di hari yang sama, S&P Global Ratings juga menyematkan peringkat BBB outlook stabil untuk DIM, mengikuti rating sovereign Indonesia.

Vice President dan Analis Senior Moody’s Ratings Rachel Chua menyebut peringkat DIM utamanya didorong keterkaitan kedaulatan, bukan kekuatan kredit mandiri. Moody’s tidak memberikan Baseline Credit Assessment karena DIM masih baru berdiri dengan rekam jejak terbatas. DIM telah menerima suntikan modal awal Rp70 triliun pada 2025 dan diperkirakan Rp50 triliun pada 2026.

Kedua, Wafi menyoroti pelemahan rupiah yang menembus Rp17.926 per dolar AS hari ini, level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.

“Pelemahan ini mencerminkan kenaikan risk premium Indonesia yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Outflow year to date masih Rp53 triliun, cadangan devisa habis lebih dari USD10 miliar untuk intervensi, dan pasar masih menunggu sinyal kebijakan yang konkret dan kredibel,” kata Wafi.

Ketiga, kegagalan negosiasi Amerika Serikat-Iran membuat harga minyak kembali naik. Menurut Wafi, hal itu memperburuk kekhawatiran terhadap defisit APBN dan tekanan inflasi domestik.

“Ini mempersulit ruang Bank Indonesia untuk pivot suku bunga,” tambah Wafi.