EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 60,45 poin atau 0,98% ke level 6.116,69 di penutupan perdagangan Senin (22/6/2026) meski sempat melesat ke level 6.217,04 di pembukaan perdagangan.

Berdasarkan data RTI, rentang pergerakan indeks komposit hari terbilang lumayan lebar. Setelah sentuh level tertinggi 6.226,71, IHSG turun dan sempat berada di level terendah intraday 6.052,93.

Mayoritas indeks sektoral hari ini merosot, dipimpin sektor kesehatan, sektor industri, dan sektor industri dasar. Sebaliknya, sektor teknologi dan sektor energi menopang pelemahan indeks komposit.

Perdagangan hari ini mencatat volume transaksi 22,51 miliar saham, frekuensi 1,73 juta kali, dan total nilai perdagangan Rp13,48 triliun.

Pelemahan IHSG dipicu penurunan harga 445 saham. Hanya 221 saham yang menguat, dan 147 saham lainnya stagnan.

Sementara itu, saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi saham yang paling aktif dari sisi nilai transaksi, nilainya tembus Rp1,2 triliun. Namun demikian, harga saham stagnan di level Rp850 per saham.

Saham Bank Central Asia (BBCA) berada di urutan kedua saham dengan catatan transaksi Rp1,2 triliun, namun harga turun 1,19% ke Rp6.225 per saham.

Saham yang mencetak nilai transaksi tertinggi setelah BBCA mayoritas dicetak big caps. Namun sayang, harga sahamnya malah memerah. Mereka adalah Chandra Asri Pacific (TPIA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), Antam (ANTM), Bank Mandiri (BMRI).

MBMA Top Loser LQ45

Untuk jajaran 45 saham terlikuid, Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) mencatat kenaikan tertinggi 4,44% ke Rp1.410. Berikutnya AKR Corporindo (AKRA) naik 3,27% ke Rp1.265, dan Alamtri Resources (ADRO) menguat 3,15% ke Rp2.290 per saham.