IHSG Rabu (21/10) Jelang RDG BI, Lanjut Menguat?
:
0
Potret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Foto: EmitenNews/Wafi
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound pada Selasa (20/10/2026) di tengah tekanan jual bersih investor asing yang masih mencapai Rp2,13 triliun.
Penguatan ini menjadi perhatian jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (21/10/2026).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG telah menyelesaikan fase awal dari pola gelombang "wave 5/(C)/Y", sehingga indeks berhasil mengalami rebound di tengah berbagai sentimen negatif.
"Indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D dan RSI menunjukkan tren positif, sementara volume perdagangan mulai meningkat," ujar Nafan.
Untuk perdagangan hari ini (21/10), Nafan memproyeksikan level support di 5.111 dan 4.907 serta resistance di 5.333 dan 5.597.
Menurutnya, kenaikan tajam IHSG di tengah aksi jual asing menunjukkan peran signifikan investor domestik. Dominasi investor lokal yang mencapai 56% dari total transaksi mengindikasikan adanya daya serap terhadap tekanan jual asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
"Hal ini juga dapat dilihat sebagai technical rebound setelah market mengalami tekanan jual yang sangat signifikan pada perdagangan Jumat dan Senin. Kondisi tersebut memicu peluang bargain hunting, terutama pada saham-saham yang sebelumnya terkoreksi tajam sehingga valuasinya menjadi lebih menarik," jelasnya.
Namun Nafan mengingatkan, kenaikan ini belum serta-merta menunjukkan kepercayaan investor telah pulih sepenuhnya, mengingat pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia.
Ia juga menyoroti kebijakan BEI yang menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) serta mengeluarkan saham-saham HSC atau High Shareholding Concentration dari perhitungan IHSG berpotensi memengaruhi sentimen.
"Kebijakan tersebut dapat membantu meredam tekanan jual berlebihan dan memberikan ruang bagi stabilisasi perdagangan indeks. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada keberhasilan otoritas dalam memperbaiki transparansi, tata kelola, likuiditas, serta kredibilitas pasar modal Indonesia," katanya.
Related News
SGX Interogasi 7 Emiten Agribisnis Terkait Karhutla di Indonesia
Tesla dan SpaceX Jajaki Merger, Valuasi Capai USD3,5 Triliun
CFA Society Soroti 5 Poin Penguatan Pasar Modal Pasca Rilis MSCI
IHSG Melesat 5,65 Persen, Big Banks Jadi Penopang, BRPT Top Gainer
IHSG Siang Meroket Kencang, Rebound 4,16% ke Atas Level 5.200!
Final Sprint 2026 Dorong Semangat Pertumbuhan





