Inflasi AS Mereda Dorong Emas ke Level USD4.400
:
0
Emas koin dan batangan. (Iluatrasi Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Harga emas mentah dunia bergerak menguat mendekati level USD4.400 per ons pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Penguatan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran inflasi global serta melandainya nilai tukar dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Pelemahan tekanan harga di tingkat global ini memberikan angin segar bagi pasar komoditas logam mulia.
Berdasarkan laporan Trading Economics, perbaikan sentimen pasar didorong oleh pernyataan pejabat bank sentral Amerika Serikat mengenai perkembangan inflasi. Presiden Bank Federal Reserve New York John Williams menilai laju inflasi AS terus menunjukkan tren penurunan.
"Ada bukti bahwa inflasi terus mereda seiring dengan memudarnya dampak tarif, sementara harga energi yang lebih tinggi belum berdampak pada sektor jasa lainnya," ujar John Williams.
Meredanya risiko inflasi juga didukung oleh jeda pada reli harga minyak dunia. Pernyataan Presiden Donald Trump bahwa serangan AS terhadap Iran bersifat singkat berhasil meredakan kekhawatiran lonjakan harga energi beruntun. Di sisi lain, data ketenagakerjaan swasta AS periode Agustus 2026 juga menunjukkan perlambatan.
Meski sinyal inflasi membaik, pasar masih memperhitungkan peluang dua pertiga bagi kenaikan suku bunga The Fed akhir bulan ini akibat sinyal hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.
Meredanya tekanan inflasi global yang memicu penguatan emas dunia ke USD4.400 per ons memberikan dampak positif bagi pasar keuangan Indonesia. Tren penurunan risiko inflasi ini dapat meredakan tekanan harga barang impor (imported inflation) domestik serta melambungkan nilai aset emas Antam dan saham emiten tambang di bursa.(*)
Related News
Peluang Cuan, Lelang 380 Ribu Ton Beras Turun Mutu Prioritaskan UMKM
Revisi Perpres 26/2026, Pemerintah akan Impor Crude dari Banyak Negara
Bursa AS Cenderung Datar Jelang Rilis Kinerja Keuangan & Fed
Pasar Domestik dan China Ambruk, Saham Hyundai Anjlok 60%
Upaya Diplomasi Timur Tengah Tekan Harga Minyak Mentah
Microsoft Pensiundinikan 60 Ribu Orang, 1/4 Total Karyawan karena Ini





