EmitenNews.com - Saham Intel Corporation anjlok 28,58 persen pada perdagangan Jumat (30/10) seiring meningkatnya keraguan investor global terhadap tingkat pengembalian investasi atau profitabilitas teknologi kecerdasan buatan. Penurunan drastis ini mencatatkan rekor kejatuhan harian terbesar bagi Intel sejak 1974.

Meskipun hasil kuartal ketiga Intel melampaui perkiraan, aksi jual meluas setelah proyeksi keuangan kuartal IV perusahaan dinilai melempem. Intel memproyeksikan laba per saham yang disesuaikan sebesar USD0,25 dan pendapatan sebesar USD15 miliar hingga USD16 miliar, di bawah ekspektasi pasar masing-masing USD0,43 dan USD17,1 miliar.

Manajer Portofolio di Equity Armor Investments Joe Tigay menilai kondisi ini terjadi akibat perubahan orientasi pasar terhadap sektor teknologi.

"Investasi AI kini beralih dari fase yang didorong oleh harapan dan ambisi ke fase di mana perusahaan harus membuktikan hasil yang nyata," ujar Tigay.

Keraguan atas efisiensi belanja modal AI turut menyeret saham teknologi lain. Nvidia dan AMD masing-masing melemah 4,22 persen dan 10,88 persen, yang mendorong Indeks Semikonduktor Philadelphia anjlok 7,20 persen. Penurunan ini ikut menekan indeks Nasdaq Composite hingga ditutup melemah 2,86 persen ke level 25.437,00.

Selain sektor semikonduktor, pasar saham AS juga tertekan oleh anjloknya saham kripto seperti Coinbase sebesar 10,62 persen akibat peretasan Binance. Sebaliknya, saham energi seperti Exxon Mobil dan Chevron menguat masing-masing 2,16 persen dan 1,75 persen dipicu kenaikan harga minyak mentah internasional.

Bagi Indonesia, pelemahan saham teknologi global dan volatilitas bursa AS dapat memengaruhi arus modal asing di pasar keuangan domestik serta memberi sentimen bagi pergerakan indeks saham sektor teknologi di Tanah Air.(*)