EmitenNews.com - Kepastian penunjukan penjabat sementara (Pjs) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinilai menjadi faktor penenang pasar menjelang pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada awal Februari.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, dinamika pergantian pimpinan di pasar modal merupakan hal wajar dan justru membuka ruang percepatan reformasi yang diminta investor global.

“IHSG berada dalam fase bullish consolidation,” ujar Nafan dikutip Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, pengunduran diri sejumlah figur kunci tidak serta-merta memicu risiko sistemik karena mekanisme kelembagaan sudah berjalan.

“Terkait dinamika pengunduran diri aktor-aktor penting di pasar modal, itu sebenarnya merupakan suatu hal wajar di market. Karena yang dicari penggantinya adalah benar-benar yang punya integritas, berkompeten, dan punya kredibilitas yang kuat di kalangan market,” katanya.

Dengan telah ditetapkannya kepemimpinan transisi pucuk Pimpinan OJK hingga BEI, Nafan menilai fokus kini bergeser pada eksekusi kebijakan dan komunikasi dengan MSCI.

“Justru dengan adanya pergantian SRO baik itu Dirut BEI atau Ketua OJK, ini masih ada waktu untuk memperbaiki serta meningkatkan transparansi BEI, sesuai permintaan MSCI, terutama terkait free float,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah cepat dan terukur menjadi kunci untuk menjaga posisi Indonesia, “Jadi diharapkan pergantian ini bisa bekerja lebih gesit, insyaallah kita bisa terhindar penurunan kelas ke frontier market.”

Nafan juga menekankan pentingnya konsistensi arah kebijakan di bawah pimpinan sementara maupun definitif ke depan.

“Yang penting harus tekankan komitmen pro market policy. Pokoknya harus ditekankan pada kebijakan itu, ini yang terpenting agar bisa menjaga kepercayaan para pelaku pasar, termasuk MSCI,” ucapnya.

Ia menyoroti agenda yang ditunggu investor, mulai dari rencana kenaikan free float menjadi 15 persen pada Februari 2026 hingga percepatan demutualisasi BEI pada kuartal I 2026.

“Dengan demikian saya rasa nanti akan bisa membuat MSCI tidak menerapkan interim freeze terhadap indeks saham Indonesia. Supaya kita bisa tetap bisa jadi bagian dari kategori MSCI emerging market, bukan frontier market. Ini jadi benar-benar harapan para investor pelaku pasar,” pungkas Nafan.