EmitenNews.com - DCI Indonesia (DCII) mendapat dana jumbo Rp17 triliun. Fasilitas kredit tersebut meluncur dari Bank Central Asia (BBCA). Perjanjian kredit tersebut telah diteken pada 30 April 2026.

Berdasar skenario, dana hasil pinjaman tersebut akan digunakan untuk belanja modal, khususnya pembangunan, penyelesaian fasilitas pusat data (data center), dan pemenuhan permintaan pelanggan atas kapasitas yang telah terkontrak.

Nah, guna menjamin fasilitas kredit tersebut, perseroan akan memberikan agunan kredit meliputi bidang-bidang tanah berikut bangunan dan/atau segala sesuatu yang berdiri dan/atau akan berdiri di atasnya yang dimiliki perseroan.

Lalu, seluruh mesin dan peralatan data center perseroan yang ada maupun yang akan diperoleh di kemudian hari. Kemudian, rekening giro perseroan pada Bank BCA sebagai agunan sementara sampai seluruh agunan lainnya diikat secara sempurna, dan tagihan atas klaim asuransi.

Fasilitas pembiayaan itu, klaim perseroan tidak berdampak negatif terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Sebaliknya, fasilitas kredit tersebut dapat memperkuat struktur pendanaan jangka panjang, terutama dalam mendukung penyelesaian proyek, dan pemenuhan layanan telah terkontrak. 

Kinerja Kuartal I 2026

DCII kuartal I 2026 mengemas laba bersih Rp377,75 miliar. Melorot 9,81 persen dari periode sama tahun lalu senilai Rp418,84 miliar. Menyusul hasil itu, laba per saham dasar emiten pangkalan data terssebbut, ikut menyusut menjadi Rp158 dari sebelumnya Rp176. 

Pendapatan Rp858,1 miliar, melejit 10,93 persen dari posisi sama tahun lalu sebesar Rp773,55 miliar. Beban pokok pendapatan Rp372,57 miliar, bengkak dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp253,86 miliar. Laba kotor Rp485,53 miliar, mengalami perosotan dari fase sama tahun lalu Rp519,68 miliar. 

Beban pemasaran Rp1,3 miliar, bengkak dari Rp772 juta. Beban umum dan administrasi Rp32,25 miliar, bertambah dari Rp24,23 miliar. Pendapatan operasi lain Rp979 juta, turun dari Rp2,11 miliar. Beban operasi lain Rp3,93 miliar dari nihil. Laba usaha Rp449,02 miliar, susut dari Rp496,8 miliar. 

Pendapatan keuangan Rp541 juta, turun dari Rp679 juta. Keuntungan dari selisih antara harga transaksi dan nilai wajar yang ditangguhkan pada aset keuangan Rp1,92 miliar dari nihil. Beban keuangan Rp31,52 miliar, bengkak dari Rp20,49 miliar. Laba periode berjalan Rp377,89 miliar, turun dari Rp418,94 miliar.