Kenaikan Dolar AS dan Aksi Demo Tekan Rupiah ke Rp17.796
:
0
Mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Di tengah maraknya aksi demo di Ibukota nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mengalami pelemahan hingga menyentuh level Rp17.796 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi (27/8/2026) pukul 10:00 WIB. Pergerakan ini melanjutkan tren tekanan terhadap mata uang garuda di pasar spot setelah dibuka melemah di area Rp17.751 hingga Rp17.775 per dolar AS pada awal sesi.
Berdasarkan data konversi real-time Google per pukul 10:06 WIB, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.796 per dolar AS. Sementara itu, mengutip data transaksi perbankan domestik serta Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia per hari sebelumnya (26/8/2026), kurs referensi tercatat berada pada level Rp17.717 per dolar AS, di mana penetapan kurs JISDOR harian baru dipublikasikan BI setelah pukul 15.30 WIB.
Berdasarkan data terkini Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.788 per dolar AS. Sedangkan menurut data TradingView rupiah di kisaran Rp17.712 per USD.
Tekanan terhadap mata uang rupiah terutama dipicu oleh faktor eksternal menyusul lonjakan indeks dolar AS (DXY) serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut didorong oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang tetap berada di atas target Federal Reserve. Kenaikan inflasi AS meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS akan tetap memperketat kebijakan moneter atau menunda pemotongan suku bunga.
Selain data inflasi, pelaku pasar keuangan global saat ini mengambil sikap hati-hati (wait and see) menjelang simposium tahunan Jackson Hole. Pasar menantikan pengarahan dari Ketua The Fed Kevin Warsh terkait proyeksi kebijakan nilai tukar dan inflasi AS ke depan.
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh sentimen domestik, termasuk dinamika aksi penyampaian pendapat di Jakarta terkait tuntutan RUU Perampasan Aset serta kecemasan investor menanti rilis data inflasi Agustus dan neraca perdagangan periode Juli pekan depan. Kombinasi penguatan indeks Dolar AS dan ketidakpastian domestik ini terus menahan arus modal masuk ke pasar keuangan regional, termasuk Indonesia.(*)
Related News
Saham Energi Tahan Kejatuhan IHSG di Tengah Demo
Harga Emas Dunia Menguat, Antam Malah Drop Segini
Sentimen AI Nvidia Bayangi Pergerakan Bursa Asia
Beda dari Publik, Ekonom ISEI Yakin Ekonomi Bakal Membaik
Berisiko Tinggi, 77% Warga AS Tolak Kripto di Dana Pensiun
Impor China Melonjak 11%, Emas Rebound Dekati USD4.620





