Ketegangan DPR dan Krakatau Steel (KRAS) Terkait Industri Baja Nasional, ini Jelasnya
:
0
Pabrik ini dapat menghasilkan 1,2 juta ton hot metal dan pig iron per tahun, produk akhirnya adalah slab metal. Sayangnya, Silmy Karim mengungkapkan, terjadi ketidakcocokan antara produksi slab dengan harga produk tersebut di pasar, sehingga KRAS berpotensi merugi jika pabrik blast furnace ini terus beroperasi.
“Proyek ini sangat menguras kemampuan keuangan Krakatau Steel. Belum lagi utang yang ditimbulkan dari proyek ini dan harus direstrukturisasi,” kata Silmy Karim dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (14/2/2022), yang berujung pengusiran itu.
Kementerian BUMN mengarahkan pihak KRAS untuk menyelesaikan masalah proyek blast furnace ini dari sisi hukum. KRAS pun telah menyerahkan info yang dibutuhkan kepada Kejaksaan Agung untuk melihat adanya potensi penyimpangan pada proyek tersebut. Dalam waktu dekat Kejaksaan Agung akan memberikan kesimpulan dan langkah lebih lanjut.
Dari segi bisnis, KRAS berencana kembali mengoperasikan pabrik blast furnace dengan melakukan upaya optimalisasi proses arsitektur produksi fasilitas hulu iron and steelmaking. Fasilitas blast furnace ini rencananya akan ditambahkan rute basic oxygen furnace sehingga rute produksi menjadi efisien.
Manajemen KRAS sedang menjalani proses pencarian investor atau mitra untuk mengoperasikan kembali fasilitas iron steel making tersebut. Silmy Karim menyebutkan, sudah ada beberapa pihak asing yang berminat kerja sama di iron steel making Krakatau Steel.
Proyek Krakatau Steel lainnya yang juga juga bermasalah, adalah pabrik ironmaking atau pengolahan besi berbasis rotary kin di Kalimantan Selatan, berkapasitas 315.000 ton per tahun besi spoons.
Untuk merealisir proyek ini, KRAS menggandeng PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dengan membentuk perusahaan patungan bernama PT Meratus Jaya Iron & Steel pada tahun 2008. KRAS memiliki salah mayoritas, mencapai 66 persen.
Proses konstruksi proyek pabrik ironmaking ini dimulai pada 2009, dan produksi dimulai November 2012. Proyek dengan nilai investasi Rp1,2 triliun ini, memiliki 2 unit rotary kiln, pabrik ini juga dilengkapi 2 unit PLTU berkapasitas 2x14 MW dengan memanfaatkan energi panas dari gas buang proses rotary kiln.
Related News
ADMR Jadwal Dividen USD120 Juta, Alokasi 44,25 Persen Laba 2025
Rasio Dividen BTPS Melonjak ke 55 Persen, Berapa Besarannya?
PGEO Mulai Garap Proyek Lumut Balai 4, Investasi Awal USD32,31 Juta
MPMX Siapkan Buyback Rp50 Miliar, Saham Dialihkan ke Program Insentif
Dharma Polimetal (DRMA) Tebar Dividen Rp70/Saham, Total Rp329 Miliar
ITMG Tetapkan Dividen USD115 Juta, Setara 60 Persen Laba 2025





