Ketidakpastian Prospek Gencatan Senjata AS-Iran, Rupiah Ikut Melemah
:
0
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. dok. Okezone.
EmitenNews.com - Ketidakpastian prospek gencatan senjata Amerika bersama Israel versus Iran berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026) sore kurs rupiah melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.181 per USD, dari penutupan sebelumnya Rp17.143.
Pada Rabu pagi, nilai tukar rupiah melemah 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.156 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.143.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini akibat ketidakpastian gencatan senjata antara AS dengan Iran.
Ibrahim mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang disulut sejak akhir Februari 2026.
Trump dinilai mengambil langkah sepihak dan belum jelas apakah Iran atau Zionis Israel akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan sebagaimana disepakati sebelumnya.
Alamat tanda-tanda perdamaian belum nampak. Apalagi karena Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang.
Sejauh ini tidak, atau belum ada komentar langsung dari para pemimpin senior Iran mengenai perpanjangan gencatan senjata seperti disebut Trump.
“Kantor Berita Tasnim mengatakan Iran tidak meminta perpanjangan tersebut dan mengulangi posisinya untuk mematahkan blokade AS dengan kekerasan,” ungkap Ibrahim Assuaibi.
Dari sentimen domestik, pemerintah Indonesia disebut menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026 seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Harus diakui lonjakan kewajiban ini dinilai menandai fase krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global, yang berimbas ke Tanah Air.
Tekanan ini berasal dari akumulasi penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia selama pandemi COVID-19. Dari total jatuh tempo 2026, sekitar Rp154,5 triliun berasal dari instrumen hasil kerja sama tersebut.
“Besarnya volume utang yang harus dibayar memaksa pemerintah melakukan strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar. Namun, langkah ini tidak lepas dari risiko,” ucap Ibrahim.
Mari mencermati kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.179 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.142. ***
Related News
Mimpi Buruk Emiten Berstatus HSC
OJK Klaim Reformasi Pasar Modal Diakui MSCI, Apa Kelanjutannya?
Jamin Penguatan Pasar Modal, BEI Terus Komunikasi dengan MSCI
Dipicu Sentimen MSCI Masih Tahan Rebalancing Saham RI, IHSG Melemah
AUM Industri 4 Persen dari PDB, OJK Pacu Inklusi Keuangan Anak Muda
Pasca Pengumuman MSCI, BEI Buka Suara!





