EmitenNews.com - PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) mengungkapkan tengah menghadapi tantangan kelangsungan usaha usaha, seiring berakhirnya kontrak dengan pelanggan utama perseroan.

Kontrak jangka panjang bernomor WBN-K-19012 dengan PT Weda Bay Nickel (WBN) dijadwalkan berakhir pada 14 Desember 2026 setelah meneken kerja sama tujuh tahun lamanya sejak 2019.

Ketergantungan MINE atas WBN ditengarai cukup tinggi, di mana kontribusi pendapatan dari entitas tersebut mencakup hampir 53,0 persen dari total pendapatan berseih perseroan atau setara Rp1,25 triliun pada tahun 2025.

“Konsentrasi ini terjadi karena WBN merupakan pelanggan strategis utama dengan proyek pengembangan dan pengoperasian pertambangan nikel skala besar di Pulau Halmahera, Maluku Utara,” ungkap manajemen melalui keterbukaan informasi, Jumat (17/7).

Selain itu, piutang MINE kepada WBN menembus angka Rp328,89 miliar atau setara dengan 65,5 persen dari total piutang perseroan sebesar Rp502,42 miliar per akhir 2025.

Meski begitu, manajemen MINE mengatakan telah memulai diversifikasi dengan memperluas basis pelanggan melalui kerja sama dengan PT sulawesi Chaya Mineral dan PT erabaru Timur Lestari untuk mengurangi konsentrasi risiko di satu pihak.

Di sisi profitabilitas, MINE melaporkan adanya tekanan besar akibat pembengkakan Beban Pokok Pendapatan (BPP) yang tumbuh 25,3 persen, jauh melampaui pertumbuhan pendapatan yang hanya sebesar 11,5 persen. Lonjakan beban ini utamanya dipicu oleh kenaikan biaya penyusutan aset tetap akibat ekspansi alat berat yang masif di lapangan, serta kenaikan biaya tenaga kerja dan bahan bakar.

Akibatnya, margin laba bruto MINE merosot tajam dari 26,3 persen di tahun 2024 menjadi 17,2% pada tahun 2025. Realisasi laba bruto perseroan sepanjang tahun lalu bahkan hanya mencapai 72,1 persen dari target proyeksi awal manajemen.

“Di tahun 2025, Perseroan menambah alat berat untuk proyek baru melalui skema sewa pembiayaan (leasing), terlihat dari timbulnya Liabilitas Sewa sebesar Rp 422.673 Juta. Hal ini berbeda dengan tahun 2024 yang lebih didominasi akuisisi aset secara tunai/pinjaman bank,” ungkap manajemen.

Langkah ini berdampak pada melonjaknya total beban keuangan/bunga perseroan sebesar 95,9 persen menjadi Rp 66,26 miliar pada tahun 2025. Manajemen mengakui jika pembatasan utang (covenant) terlanggar, perseroan menghadapi risiko penarikan kredit seketika (recall) dan gagal bayar silang (cross-default).