EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,37 persen menjadi 8.280 setelah sempat bergerak menguat hingga level 8.437 pada awal sesi. Sektor energi mencatat koreksi terbesar, dan keuangan menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Seiring pelemahan indeks, Rupiah juga melemah pada level Rp16.829 per dolar Amerika Serikat (USD). 

Pelemahan Rupiah itu, sejalan koreksi mayoritas mata uang Asia akibat penguatan USD. Ketidakpastian kebijakan tarif, dan prospek suku bunga AS masih relatif ketat membuat USD berbalik menguat. Secara teknikal, momentum penguatan histogram MACD indeks mulai melemah, dan terjadi pembentukan Death Cross Stochastic RSI area overbought. 

Indeks kembali ditutup di bawah level MA5 sekitar 8.306. Sehingga diperkirakan koreksi indeks berpotensi berlanjut, dan menguji level support 8.200, dan resistene 8.250. Namun, rebound Wall Street diperkirakan mendorong indeks menguat di awal sesi. Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok kembali mempertahankan suku bunga pinjaman tetap.

Itu tercatat selama sembilan bulan berturut-turut di Februari 2026, yaitu Loan Prime Rate 1Y 3 persen, dan Loan Prime Rate 5Y level 3,5 persen. Sedang investor Eropa mencermati GfK Consumer Confidence Jerman Maret 2026 diperkirakan minus 23.8 dari tekor 24.1. Inflasi Euro Area Januari 2026 diperkirakan melambat menjadi 1,7 persen YoY dari 2 persen YoY. 

Berdasar data fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham unggulan berikut. Antara lain Bank Mandiri (BMRI), Adhi Karya (ADHI), PT PP (PTPP), Bank Syariah Indonesia alias BSI (BRIS), dan Telkom (TLKM). (*)