EmitenNews.com - Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Selasa. Indeks acuan Korea Selatan KOSPI naik lebih dari 2 persen ke level 7.150 dan mencatatkan posisi tertinggi dalam sebulan. Sementara indeks Nikkei 225 Jepang justru turun 0,4 persen hingga ke bawah level 69.000.

Lonjakan KOSPI dipimpin oleh penguatan signifikan pada saham produsen chip dan teknologi akibat dorongan sektor semikonduktor global serta optimisme permintaan AI. Saham Samsung Electronics naik hampir 3 persen dan SK hynix melonjak lebih dari 7 persen.

Kenaikan juga dialami saham SK Square sebesar 7,4 persen, LS Electric Co. 5,1 persen, SK Inc 4,8 persen, Samsung C&T Corp. 3,3 persen, serta LG Electronics 1,6 persen.

Trading Economics memberitakan bahwa peningkatan KOSPI terjadi di tengah terbatasnya selera risiko global akibat berakhirnya perjanjian 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran tanpa perpanjangan.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak, serta mendorong imbal hasil obligasi pemerintah. Korea Selatan saat ini juga masih bernegosiasi dengan AS terkait rencana investasi senilai USD200 miliar.

Sebaliknya, indeks Nikkei 225 tertekan oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka 10 tahun yang menyentuh 2,95 persen, level tertinggi dalam tiga dekade. Kenaikan imbal hasil obligasi serta spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan membebani sentimen pasar.

Kondisi ini menekan saham teknologi dan konsumen seperti Tokyo Electron yang turun 2,9 persen, Nintendo 2,4 persen, Advantest 1,7 persen, Lasertec 1,6 persen, dan Fast Retailing 1,3 persen.

Di sektor korporasi, Nvidia menyetujui investasi hingga USD105 miliar untuk mendukung SB Energy, anak perusahaan SoftBank Group dalam proyek pusat data OpenAI di Ohio.

Dinamika bursa Asia Timur ini memberikan sinyal campuran bagi pasar keuangan Indonesia. Penguatan industri semikonduktor global berpotensi memberikan sentimen positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di dalam negeri.

Namun, kenaikan imbal hasil obligasi global dan tingginya harga minyak tetap menjadi tantangan yang perlu diwaspadai terhadap stabilitas arus modal asing dan nilai tukar rupiah.(*)