Labeli Grup Bakrie (DEWA) idA, Ini Alasan Pefindo
Sejumlah kendaraan alat berat berkonvoi di area pertambangan milik perseroan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengganjar Darma Henwa (DEWA) dengan peringkat idA. Rating itu, merefleksikan posisi strategis, dan visibilitas pendapatan kuat. Peringkat itu, dibatasi struktur permodalan moderat.
Itu seiring dengan fase ekspansi, paparan terhadap fluktuasi harga komoditas, dan tingkat persaingan ketat industri. Peringkat dapat dinaikkan kalau perseroan secara signifikan mampu melampaui proyeksi pendapatan, dan EBITDA.
Menghasilkan arus kas kuat, meningkatkan margin laba berkelanjutan, dan memperkuat profil keuangan keseluruhan. Peringkat bisa diturunkan kalau pendapatan atau EBITDA perusahaan berada di bawah proyeksi akibat penurunan profitabilitas atau permintaan pasar menurun.
Atau perseroan menambah utang yang lebih tinggi dari proyeksi tanpa diimbangi oleh kinerja bisnis yang lebih kuat. Perseroan berdiri pada 1991 sebagai perusahaan kontraktor pertambangan, dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2007.
Perusahaan menyediakan layanan pertambangan terintegrasi meliputi jasa penambangan batu bara dan mineral, infrastruktur pertambangan, dan kegiatan pendukung lainnya, serta jasa pengelolaan pelabuhan. Saat ini, mayoritas pendapatan perseroan dari afiliasi yaitu Kaltim Prima Coal (KPC), dan Arutmin Indonesia.
Per 31 Desember 2025, pemegang saham perusahaan terdiri dari Andhesti Tungkas Pratama 8,55 persen, CIMB Securities Limited 6,38 persen, CGS Sekuritas Indonesia 5,53 persen, Goldwave Capital Limited 9,38 persen, Zurich Asset International Ltd 6,18 persen, dan pemegang saham lainnya 64 persen. (*)
Related News
Libur Lebaran 2026, Livin’ by Mandiri Siap Temani Transaksi Nasabah
Wilmar Ungkap Dampak Penutupan Selat Hormuz, Berpotensi Ganggu Kinerja
Didorong Bisnis Logistik, Laba ASSA Melonjak 81 Persen Pada 2025
CBPE Tambah Anak Usaha, Garap Bisnis Serviced Apartment
Jelang Lebaran, Trafik Tol Jasa Marga Tembus 1,31 Juta Kendaraan
Tanpa Penjualan Aset, Laba APLN Melemah di 2025





