EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah. Sentimen negatif dari ketidakpastian mengenai the Fed, dan perkembangan geopolitik. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan akan mempertahankan penasihat ekonomi Kevin Hassett daripada menjadikan sebagai Chairman the Fed.

So, meningkatkan potensi Gubernur Fed Kevin Warsh menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Jerome Powell. Trump akan memberlakukan tarif terhadap 8 anggota NATO sampai tercapai kesepakatan pembelian Greenland. Tarif diberlakukan sebesar 10 persen mulai 1 Februari 2026, dan sebesar 25 persen mulai 1 Juni 2026. 

NYSE tutup pada hari ini, Senin, 19 Januari 2026 karena libur Martin Luther King Jr Day. Pekan ini, investor akan mencermati kelanjutan earning season, dan data ekonomi AS, seperti PCE prices, dan PDB kuartal III 2025. Selain itu, akan ada rilis data PMI Euro Area, Inggris, dan Jepang. 

Investor Asia akan mencermati data PDB kuartal IV 2025 Tiongkok, dan kebijakan moneter dari Bank of Japan. Tiongkok dan Kanada mencapai kesepakatan dagang dengan saling menurunkan tarif untuk beberapa produk mulai 1 Maret 2026. Investor domestik menanti rapat dewan Gubernur (RDG) BI.

BI diprediksi menahan BI Rate 4,75 persen karena Rupiah masih lemah. Selain itu, akan ada rilis data pertumbuhan kredit Desember 2025 ditaksir melambat menjadi 7,6 persen YoY dari November 2025 di level 7,74 persen YoY. Secara teknikal, indikator MACD, dan Stochastic RSI mendukung kelanjutan penguatan indeks. 

Sehingga indeks diperkirakan berpeluang menguji level 9.100-9.200 pekan ini. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para investor untuk menjala sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, BFI Finance (BFIN), Indosat (ISAT), Chandra Daya Investasi (CDIA), Mitra Adiperkasa (MAPI), Telkom (TLKM), dan Sido Muncul (SIDO). (*)