EmitenNews.com -Di tengah tekanan daya beli masyarakat dan dinamika global yang masih berlanjut, kinerja industri ritel tidak sepenuhnya mengalami perlambatan. Sejumlah pelaku usaha masih mampu mencatatkan pertumbuhan, ditopang oleh kekuatan segmen konsumen tertentu yang relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Dalam konteks tersebut, sejumlah pelaku ritel masih mencatatkan pertumbuhan positif. Salah satunya, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian perusahaan, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 17,35 persen secara tahunan pada 2025, dengan total pendapatan melampaui Rp76,6 triliun dan kinerja laba yang tetap terjaga. Capaian ini mencerminkan tidak hanya pertumbuhan yang solid, tetapi juga ketahanan dan keberlanjutan model bisnis di tengah kondisi pasar yang menantang.

Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal menilai bahwa ketahanan tersebut tidak terlepas dari karakteristik segmen pasar yang disasar. “Kinerja ritel yang tetap tumbuh signifikan menunjukkan bahwa segmen menengah ke atas masih kuat saat daya beli melemah, karena daya tahan mereka lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap tekanan inflasi. Namun, ini bukan satu-satunya faktor, eksekusi produk dan distribusi tetap dominan,” ujarnya.

Selain segmentasi, Reydi juga menyoroti perubahan karakteristik produk sebagai faktor penopang permintaan. Menurutnya, pergeseran smartphone menjadi kebutuhan esensial membuat permintaan cenderung lebih stabil dibandingkan produk konsumsi lainnya. “Perubahan smartphone menjadi kebutuhan esensial membuat demand lebih stabil. Selain itu, perusahaan juga lebih fokus ke after sales service, bundling atau apapun yang bukan sekadar jualan unit saja,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa diversifikasi usaha dapat menjadi penopang pertumbuhan, selama tetap dijalankan secara terarah. “Diversifikasi bisnis merupakan penopang penting, namun harus tetap relevan dengan bisnis inti, bukan sekadar ekspansi oportunistik, karena tentunya akan mengganggu image branding produk yang sebelumnya sudah kuat,” tambahnya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Erajaya menjalankan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan daya beli. Group Chief Strategy Officer Erajaya, Patrick Adhiatmadja menjelaskan bahwa positioning di segmen mid-upper menjadi salah satu fondasi utama stabilitas kinerja perusahaan. “Segmen market kami mayoritas berada di mid-upper, yang cenderung lebih stabil dan tidak terlalu volatile ketika terjadi tekanan ekonomi. Di saat yang sama, kami terus memperkuat portofolio produk dan pengalaman pelanggan sebagai bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam sebuah sesi wawancara dengan awak media.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa bisnis utama perusahaan yang berfokus pada smartphone dan ekosistemnya masih menjadi pilar utama. Seiring perkembangan teknologi, perangkat tersebut telah menjadi bagian integral dari gaya hidup digital masyarakat. “Smartphone sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan terhubung dengan berbagai perangkat lain, sehingga permintaannya tetap terjaga,” jelasnya.

Untuk memperkuat daya saing, perusahaan juga mengembangkan strategi omnichannel yang mengintegrasikan pengalaman belanja online dan offline. Konsumen dapat melakukan pembelian secara digital sekaligus memanfaatkan layanan di toko fisik, mulai dari pengambilan produk hingga layanan purna jual. “Di situlah terjadi interaksi yang juga membuka peluang upselling,” ujar Patrick.

Di luar bisnis inti, perusahaan turut memperluas portofolio usahanya ke sektor gaya hidup aktif serta food and groceries. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun, kedua lini bisnis ini telah berkontribusi sekitar 12 persen terhadap total pendapatan, dengan tren pertumbuhan yang relatif tinggi.

Ekspansi tersebut juga tercermin dari sejumlah inisiatif terbaru. Di lini gaya hidup aktif, perusahaan memperluas kehadiran brand global melalui pembukaan gerai perdana SHOKZ dan Garmin di Surabaya. Sementara itu, di segmen food and groceries, ekspansi dilakukan melalui pembukaan gerai CHAGEE di Bali. Aktivasi brand seperti iBox FITFEST yang digelar pada awal Maret juga menjadi bagian dari upaya memperkuat engagement dengan konsumen.

Dari sisi ekspansi, perusahaan tetap menerapkan pendekatan yang selektif dan berbasis evaluasi. Setiap gerai dipantau secara berkala untuk memastikan kinerjanya optimal, termasuk melakukan relokasi atau penutupan apabila diperlukan. “Kami tidak hanya fokus membuka toko baru, tetapi juga memastikan setiap lokasi memberikan kontribusi optimal,” kata Patrick.

Secara keseluruhan, dinamika ini menunjukkan bahwa ketahanan pertumbuhan di tengah pelemahan daya beli tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar, tetapi juga oleh strategi perusahaan dalam mengelola segmentasi, relevansi produk, serta adaptasi model bisnis terhadap perubahan perilaku konsumen.