EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada dalam tekanan sentimen risk off dari global market.

Salah satunya, respons pasar atas kebijakan The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75%. Kendati demikian, keputusan tersebut diwarnai perbedaaan voting oleh tiga anggota FOMC dari total 12 anggota hak suara yang memiliki kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps.

“Dengan demikian para pelaku investor menilai sikap The Fed menjadi lebih hawkish dan memperhitungkan bahwa peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September mendatang mulai terbuka lebar, sehingga mendorong investor global menjadi lebih prudent terhadap emerging market,” ujar M Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya, Kamis (30/7).

Selain itu, Nafan juga menilai transaksi bursa pada akhir Juli diwarnai aksi portfolio adjusment dan penyesuaian arus dana pasif dari manajer investasi menjelang tanggal efektif perombakan konstituten indeks BEI 3 Agustus 2026.

“Sementara itu, para pelaku pasar sebenarnya masih menghadapi ketidakpastian terkait dengan pasca pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI,” tuturnya.

Nafan mengatakan secara teknikal, HSG mengalami koreksi wajar dalam rangka membentuk formasi “wave 2”. Meskipun demikian, sejak pergerakan indeks saham telah menguji MA20 dengan membentuk pola spinning top candle, maka peluang terjadinya koreksi terbatas terbuka lebar.

“Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai mengalami kenaikan,” ujarnya.

Area resistance pada perdagangan hari ini berada di rentang 6.130 dan 6.254, sedangkan support di 5.931 dan 6.031. Sejumlah saham yang dapat dicermati di antaranya ADRO, CPIN, dan ITMG.