EmitenNews.com - H Isam bersiap mencaplok saham Bayan Resources (BYAN) Rp300 triliun. Pemilik nama asli Andi Syamsuddin Arsyad itu, disebut-sebut akan mengakuisisi 62,25 persen alias 20,79 miliar saham BYAN. Angka jumbo itu muncul dengan kalkulasi harga pembelian mengacu pada harga saham BYAN di kisaran Rp14.400 per lembar.

Pengambilalihan melalui Jhonlin Group itu, menyasar 13,46 miliar helai atau 40,25 persen saham milik Dato Low Tuck Kwong, dan 22 persen alias 7,33 miliar saham Elaine Low. Berdasar data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Juli 2026, kepemilikan saham BYAN di atas 1 persen sebagai berikut.

Di mana, Sumber Suryadaya Prima mengemas saham BYAN sekitar 3,3 miliar lembar alias 10 persen, Korea East-West Power 1,33 miliar saham setara 4 persen, Korea Wester Power 1,33 miliar lembar alias 4 persen, Korea Southern Power 1,33 miliar helai atau 4 persen, Korea Midland Power 1,33 miliar eksemplar selevel 4 persen.

Selanjutnya, Korea South-East Power 1,33 miliar lembar atau 4 persen, Jenny Quantero mengemas 994,97 juta helai atau 2,98 persen, Low Tuck Kwong 13,46 miliar helai selevel 40,25 persen, Lim Chai Hock menguasai 1,08 miliar eksemplar alias 3,26 persen, dan Elaine Low menggenggam 7,33 miliar saham setimbang dengan 22 persen.

Merujuk catatan harian Dahlan Iskan via disway.id, mantan menteri BUMN itu penasaran bagaimana skenario transaksi tersebut bakal dituntaskan. Apakah akusisi Rp300 triliun tersebut akan dibayar lunas atau secara angsuran yang sekiranya tidak mengganggu cash flow perusahaan H Isam. Sayangnya, baik dari Bayan dan H Isam belum ada konfirmasi resmi mengenai transaksi jumbo tersebut.

Peta Persaingan Tambang Batu Bara Dinamis

Yang menarik menurut Dahlan, pada kunjungan lapangan ke lokasi tambang Bayan Resources pada Sabtu, 15 Agustus 2026, kehadiran dua sosok pemuda di antara Dato Low dan H Isam. Dua sosok pemuda itu, Norman Joesoef mengapit Dato Low, dan Alwin Cipto Ciputra berdampingan dengan H Isam. Norman Joesoef adalah putra pengusaha sukses Harsha Joesoef: partner FedEx di Indonesia.

Selain itu, Norman juga sebagai pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI). Sedangkan Alwin Cipto Ciputra ternyata memang sudah lama bergerak di bbisnis tambang. Dengan begitu, Norman dan Alwin berada di lingkaran Haji Isam. Oleh sebab itu, peta persaingan penguasaan tambang batu bara makin dinamis.

Kata Dahlan setelah H Isam mengambil alih sebanyak 62 persen, berarti habis riwayat Datuk Low Tuck Kwong di Bayan. Berakhir pula kisah raja ajaib di dunia tambang. Apa benar begitu? Yang pasti sejak rumor mencuat, dan terendus pasar, saham BYAN meledak signifikan.

Tepatnya, saham BYAN mengalami batas Auto-Rejection Atas (ARA) pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026. Itu setelah menanjak 20 persen setara 2.400 poin menjadi Rp14.400 per lembar. Pada perdagangan tersebut, saham BYAN dibuka di level Rp12.000 per helai. Sepanjang hari, saham bergerak di rentang Rp11.100 - Rp14.400.