EmitenNews.com - PT  Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatat pendapatan sebesar USD295 juta pada 2025, turun tipis sekitar 2% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya harga komoditas, di mana harga LPG turun sekitar 8% dan harga amoniak melemah 3,5% secara tahunan.

Meski demikian, volume pengiriman amoniak yang meningkat sekitar 3% membantu menjaga pendapatan tetap stabil. Selain itu, pelunasan pinjaman lebih awal yang dilakukan perusahaan pada 2025 turut menurunkan beban bunga dan menopang kinerja laba.

ESSA juga mencatat, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk turun dari USD45,15 juta pada 2024, menjadi USD20,29 juta pada 2025.

Presiden Direktur sekaligus CEO ESSA, Kanishk Laroya mengatakan tingkat operasi yang optimal menjadi faktor utama yang menjaga kinerja perusahaan tetap kuat. Menurutnya, kilang LPG ESSA telah mencatat lebih dari 6,5 tahun tanpa gangguan operasional atau zero plant trip, sementara pabrik amoniak telah mencapai 9,4 juta jam kerja aman.

Pada kuartal II 2026, perusahaan juga berencana melakukan turnaround atau perawatan berkala pada pabrik amoniak guna menjaga keselamatan, keandalan, serta efisiensi operasional jangka panjang.

Laroya menambahkan, pengelolaan keuangan yang prudent memungkinkan perusahaan menurunkan beban bunga sekaligus memperkuat posisi keuangan.

“Pada 2025 kami berhasil mencapai posisi bebas utang (debt-free) dengan kas bersih sebesar USD126 juta, yang menempatkan ESSA pada posisi kuat untuk memanfaatkan berbagai peluang pertumbuhan ke depan,” ujarnya, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Sebagai informasi, pemegang saham pengendali ESSA berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026 adalah Chander Vinod Laroya yang menguasai kepemilikan terbesar 16,28%. Pemegang saham besar terafiliasi lainnya yaitu Garibaldi "Boy" Thohir 14,55%, TP Rachmat 7,16%, Jonathan Chang 4,74%, Bank of Singapore 4,11%.

Selanjutnya, Bank Julius Baer & Co 3,82%, Sugito Walujo 2,69%, Goldstar Tri Investment Malaysia 2,45%, Terra Konsuma Investama 2,16%, Amaranth Red Pte Ltd Singapore 2,15%, Trimegah Sekuritas Tbk 1,99%, Dharma Inti Anugerah 1,69%, Pemerintah Norwegia 1,14%.