EmitenNews.com - Kebangkitan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel sejak melantai di bursa tahun 2023 telah menandai era baru dalam lanskap pertambangan Indonesia dengan fokus efisiensi yang sangat tajam. Analisis terhadap data hingga kuartal ketiga tahun 2025 mengungkapkan bahwa NCKL telah bertransformasi menjadi sebuah mesin industri yang menguasai integrasi hulu-ke-hilir di Pulau Obi secara masif. 

Fenomena yang paling mencolok terlihat pada paradoks profitabilitas perusahaan, di mana pertumbuhan laba bersih justru melampaui lintasan pendapatannya secara signifikan. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025, pendapatan neto NCKL tumbuh moderat sebesar 7,1 persen secara tahunan menjadi Rp22,40 triliun. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru melesat 33,2 persen secara tahunan, mencapai Rp6,45 triliun.

Paradoks Profitabilitas dan Kekuatan Entitas Asosiasi

Keunggulan profitabilitas ini berakar pada peran vital entitas asosiasi yang menjadi kontributor utama margin keuntungan perusahaan dibandingkan operasi tambang langsung. Pendorong utama lonjakan laba ini bukan berasal dari penjualan bijih tambang, melainkan dari bagian laba entitas asosiasi yang tumbuh fantastis sebesar 70,3 persen secara tahunan menjadi Rp2,74 triliun. 

Fasilitas High-Pressure Acid Leach (HPAL) seperti PT Halmahera Persada Lygend dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC) telah terbukti menjadi "mesin uang" yang menjaga profil margin laba bersih perusahaan tetap kuat di angka sekitar 28,8 persen. Strategi ini memungkinkan NCKL mencetak laba yang jauh lebih efisien dibandingkan kompetitor yang masih bergantung pada penjualan komoditas mentah.

Agresivitas Investasi di Tengah Penyusutan Kas

Bedah terhadap laporan posisi keuangan mengungkap agresivitas perusahaan dalam mengelola likuiditas demi memperkuat imperium hilirisasi di masa depan. Terjadi anomali penyusutan saldo kas dan setara kas yang cukup dalam, dari Rp6,48 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp4,95 triliun per September 2025. 

Penyusutan kas tersebut merupakan langkah reinvestasi strategis karena dialokasikan untuk investasi pada entitas asosiasi yang membengkak dari Rp15,52 triliun menjadi Rp23,04 triliun dalam periode sembilan bulan saja. Kenaikan investasi sekitar Rp7,5 triliun ini difokuskan pada proyek-proyek kunci seperti smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Karunia Permai Sentosa (KPS) serta peningkatan kepemilikan saham di ONC dari 20% menjadi 40% pada Juni 2025.

Momentum Operasional dan Dominasi Volume Produk HPAL

Dari sisi operasional, NCKL kini mulai memetik hasil dari berbagai fasilitas pengolahan yang telah mencapai kapasitas komersial penuh. Volume penjualan produk HPAL, yang meliputi MHP dan nikel sulfat, meningkat drastis sebesar 84 persen secara tahunan pada semester pertama 2025 hingga mencapai 65.310 ton kandungan nikel. 

Pertumbuhan ini didorong oleh fasilitas ONC yang beroperasi penuh sejak Agustus 2024, sementara volume penjualan feronikel juga naik 33 persen didukung oleh smelter KPS Fase 1 yang mencapai kapasitas penuh pada Maret 2025. Ke depannya, pipa proyek NCKL masih menjanjikan pertumbuhan kapasitas yang masif dengan target produksi KPS Fase 2 pada akhir 2025 dan Fase 3 pada awal 2026, yang akan membawa total kapasitas mencapai 185.000 ton kandungan nikel per tahun.

Risiko Ekosistem Tertutup dan Ketergantungan Afiliasi

Investor perlu mencermati risiko struktural berupa ekosistem tertutup yang menciptakan ketergantungan operasional dan finansial yang sangat tinggi. Berdasarkan laporan transaksi afiliasi November 2025, NCKL melalui unit usahanya menjual bijih nikel saprolit secara eksklusif kepada afiliasi smelternya sendiri, yaitu PT KPS dan PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), dengan harga yang ditentukan pemerintah. 

Model bisnis closed-loop ini memang menjamin penyerapan hasil tambang secara rutin, tetapi juga berarti kesehatan keuangan perusahaan induk sangat bergantung pada stabilitas operasional smelter di satu lokasi tunggal, yaitu Pulau Obi. Segala bentuk gangguan teknis atau kebijakan di lokasi tersebut akan langsung berdampak pada seluruh rantai arus kas operasional perusahaan.

Senjata ESG sebagai Katalis Valuasi Global

Sebagai bagian dari upaya menarik modal global, NCKL secara aktif memposisikan aspek keberlanjutan sebagai keunggulan kompetitif di mata investor internasional. Perusahaan telah resmi menjadi konstituen indeks FTSE4Good Emerging Markets dan ASEAN 5 sejak Juli 2025 serta tengah menjalani audit sertifikasi Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). 

Komitmen dekarbonisasi juga ditunjukkan melalui rencana pemasangan panel surya berkapasitas 40MWp yang ditargetkan rampung pada akhir 2025. NCKL kini merepresentasikan hilirisasi nikel yang matang dengan total aset mencapai Rp58,54 triliun per September 2025, melampaui skala aset banyak kompetitornya. Masa depan perusahaan kini bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas operasional di Pulau Obi, menjadikannya pilihan investasi yang kuat di sektor nikel baterai selama ekosistem tertutupnya tetap terjaga secara berkelanjutan.