MSCI Bikin Geger, IHSG Ambruk 7,35 Persen dan Sempat Kena Trading Halt
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambles pada Rabu (28/1/2026) setelah sentimen negatif kebijakan MSCI (Emitennews/Aji)
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambles pada perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah sentimen negatif dari kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu aksi jual masif di pasar. Indeks komposit terperosok 659,67 poin atau 7,35 persen ke level 8.320,56.
Tekanan langsung terasa sejak pembukaan perdagangan, tak lama setelah MSCI mengumumkan pembekuan sejumlah mekanisme peninjauan indeks (index review) untuk pasar Indonesia. Pada sesi awal, IHSG langsung terjun 6,87 persen atau 616,71 poin ke posisi 8.363,52 dari penutupan sebelumnya di level 8.980,23.
Aksi jual terjadi merata, dengan saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks justru berubah menjadi sumber tekanan. Kondisi tersebut memicu pelemahan berantai hampir di seluruh sektor.
Memasuki akhir sesi I, IHSG belum menunjukkan tanda pemulihan dan terus melemah mendekati ambang batas penurunan delapan persen yang berpotensi memicu penghentian perdagangan sementara. Tekanan justru semakin dalam pada sesi II, hingga akhirnya Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan kembali dibuka pada pukul 14:13:13 JATS tanpa perubahan jadwal.
Hingga penutupan perdagangan, seluruh indeks sektoral tercatat berada di zona merah. Sektor infrastruktur mencatat penurunan terdalam sebesar 10,15 persen, disusul sektor energi yang anjlok 8,99 persen dan sektor teknologi turun 7,55 persen.
Dari sisi aktivitas perdagangan, total volume transaksi mencapai 60,85 miliar saham dengan nilai transaksi Rp45,49 triliun dan frekuensi 3,99 juta kali. Sebanyak 753 saham melemah, hanya 37 saham menguat, sementara 16 saham stagnan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menjelaskan bahwa MSCI menilai data yang disampaikan otoritas pasar Indonesia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan metodologi, khususnya terkait transparansi kepemilikan saham di bawah lima persen yang bersumber dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Ia menegaskan, tantangan terbesar berada pada evaluasi lanjutan MSCI yang dijadwalkan pada Mei 2026. Jika kebutuhan transparansi tersebut tidak terpenuhi, Indonesia berpotensi mengalami penurunan status.
“Kalau transparansi itu tidak terpenuhi sampai dengan bulan Mei, mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi frontier market. Artinya kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina,” ujar Iman kepada wartawan, Rabu (28/1/2026).
Lebih lanjut, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI tengah menyiapkan langkah lanjutan untuk memenuhi permintaan data MSCI, khususnya terkait kepemilikan saham yang tidak bersumber langsung dari bursa.
“Ini yang sedang kita kerjakan bersama antara bursa, KSEI, dan OJK,” pungkasnya.
Related News
ORI029 Dengan Imbal Hasil Stabil Tersedia di Growin’ Mandiri Sekuritas
Trading Halt, BEI Akan Lanjutkan Perdagangan Mulai 14:13 Waktu JATS
IHSG Anjlok 8 Persen, Perdagangan Saham Resmi Trading Halt
4 Bulan Penentuan, Dana Asing Berisiko Kabur Jika Isu MSCI Tak Tuntas
MSCI Soroti Transparansi Kepemilikan, Isu Besar Pasar Modal RI
Sempat Dekati Trading Halt 8 Persen, IHSG Sesi I Longsor ke 8.321





