Pacu Program Prioritas, Pemerintah Target Pertumbuhan 5,4-5,6 Persen
Sejumlah menteri ekonomi menghadiri acara Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/02).(Foto: Kemenko Perekonomian)
EmitenNews.com - Di acara Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/02) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah berbagai tantangan global. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,11% pada tahun 2025 dengan kuartal IV mencapai 5,39% — tertinggi kedua di G20 setelah India, sementara pertumbuhan global masih stagnan di sekitar 3%.
Pertumbuhan tersebut diiringi perbaikan indikator sosial yang signifikan, yakni tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25%, Rasio Gini membaik ke 0,363, dan pengangguran terbuka turun menjadi 4,74% dengan serapan tenaga kerja mencapai 2,71 juta orang.
Dengan pijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2026 ditargetkan sebesar 5,4% dengan potensi hingga 5,6%. Pemerintah mempercepat tiga program prioritas Presiden sebagai source of growth sekaligus penyerap tenaga kerja, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Program 3 Juta Rumah.
“Selain intervensi pemenuhan gizi, ekonomi masyarakat juga bergerak karena dana yang diturunkan langsung ke bawah. Produktivitas wilayah meningkat, pengangguran terbuka bisa ditekan, dan seluruh mitra yang terlibat mendapatkan insentif. Perputaran ekonomi pun terjadi lebih cepat,” jelas Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana.
Program MBG telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat dengan belanja harian Rp900 miliar melalui 23.222 SPPG di 38 provinsi. Kajian BPS menunjukkan serapan anggaran Rp43,28 triliun menghasilkan dampak ekonomi Rp294,08 triliun (pengganda 1:7), menggerakkan konsumsi rumah tangga, investasi alat produksi, dan belanja pemerintah secara simultan.
Sementara itu, Program Gerai Sembako Koperasi Desa Merah Putih mendorong kenaikan pendapatan rata-rata desa sebesar +25% per tahun dengan estimasi kontribusi +0,5% terhadap PDB nasional, memperkuat perputaran ekonomi lokal dan stabilitas harga.
Lebih lanjut, kebijakan fiskal menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan dan stabilitas ekonomi. APBN 2026 diarahkan untuk ekspansif mendorong ekonomi namun tetap terukur, dengan defisit fiskal dijaga di bawah 3%. Penerimaan pajak pada Januari 2026 menunjukkan sinyal positif dengan pertumbuhan 30,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, memperkuat keyakinan bahwa konsolidasi fiskal berjalan sesuai rencana.
“Dengan langkah kebijakan yang pas yang dipimpin oleh Bapak Presiden, kita berhasil membalik arah ekonomi. Belanja negara kuartal I-2026 akan mencapai Rp809 triliun — kami keluarkan semua belanja yang mungkin di kuartal pertama untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kita akan ekspansi sampai 2033, jadi tidak usah takut, prospek jangka menengah kita sangat baik,” tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam mengakselerasi pertumbuhan, pembiayaan di luar APBN memiliki peran strategis. Danantara menjalankan proyek hilirisasi lintas sektor mineral, energi, serta pangan dan agrikultur dengan total investasi USD~26 miliar yang berpotensi menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja. Enam proyek telah di-groundbreaking-kan per 6 Februari 2026 senilai USD~7 miliar, dan akan dilanjutkan 14 proyek lainnya senilai USD~19 miliar.
Danantara juga mempersiapkan proyek investasi strategis lain di tahun 2026 — mulai dari fasilitas Waste to Energy di 33 kota, DC Platform bersama operator global, fasilitas kampung haji di Mekkah, hingga pengembangan industri perfilman dan kreatif berskala internasional.
Di sektor keuangan, kondisi pasar mulai kembali stabil. Sejak 2 Februari 2026 IHSG telah rebound dan arus modal asing berangsur masuk kembali, khususnya di pasar obligasi. Reformasi pasar modal terus berjalan yang tercermin dari peningkatan free float dari 7,5% menjadi 15%, transparansi UBO, percepatan demutualisasi BEI, serta kenaikan limit investasi dana pensiun dan asuransi pada saham LQ45 dari 10% menjadi 20%.
Di sisi perdagangan internasional, Pemerintah memperluas akses pasar melalui I?EU CEPA (14,7% PDB global), I?Canada CEPA (bebas tarif >90% produk), I?EAEU FTA, negosiasi tarif dengan AS, serta persiapan Pra?CEPA dengan Inggris.
“Kami berkomitmen memperkuat kualitas institusi dan tata kelola melalui komunikasi yang efektif. Kepastian arah kebijakan, baik fiskal, tata kelola Danantara, maupun kebijakan lainnya, akan menjadi jangkar stabilitas dan meredam volatilitas di pasar keuangan. Seluruh komponen ekonomi harus bekerja bersama agar Indonesia bisa lepas landas dan terbang di ketinggian maksimal,” pungkas Menko Airlangga.(*)
Related News
BI Siapkan Uang Tunai Rp185,6T Sambut Ramadan dan Idulfitri
HPE Konsentrat Tembaga dan Emas Periode Kedua Februari Kembali Naik
Diminati Asing, Permintaan akan Produk Baja Indonesia Meningkat
Total Utang Pemerintah Rp9.638T, Sebagian Besar dari Penerbitan SBN
Yuan Menguat 59 Poin Terhadap Dolar AS
Pemerintah Andalkan Teknologi Lanjutan Untuk Genjot Lifting Migas





