Pan Brothers (PBRX) Bidik Pertumbuhan Penjualan 10 Persen di 2026
:
0
Manajemen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) saat Paparan kinerja setelah RUPS. Photo/Rizki EmitenNews
EmitenNews.com -Emiten tekstil dan garmen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) bersiap membalikkan arah kinerja keuangan di tahun 2026. Setelah sempat mengalami penurunan kinerja pada periode 2024–2025, perseroan kini menerapkan strategi bisnis yang lebih konservatif namun terukur, dengan membidik pertumbuhan penjualan (sales) sekitar 10% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Direktur Keuangan Pan Brothers, Fitri R. Hartono, mengungkapkan bahwa perseroan memilih untuk bersikap realistis namun tetap optimistis di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global. Fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat fundamental operasional internal alih-alih melakukan ekspansi fisik secara agresif.
"Tahun 2026 kita masih memproyeksikan naik sedikit dari 2025 untuk sales-nya sekitar 10%. Untuk proses (keuntungan) kita tetap targetkan naik, khususnya pada bottom line operasional. Kami lebih suka fokus pada operasional," ujar Fitri saat ditemui selepas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Fitri menjelaskan bahwa keterbatasan modal kerja pasca-proses restrukturisasi perusahaan membuat PBRX harus jeli dalam mengalokasikan sumber daya. Alih-alih membangun pabrik baru, PBRX memilih melakukan "ekspansi" dari dalam lewat digitalisasi.
"Kalau rencana ekspansi fisik seperti bangun pabrik baru itu tidak ada. Tapi di dalam pabrik sendiri, kita terus lakukan otomisasi dan digitalisasi dengan beberapa mesin dan software baru. Dengan begitu, kita berharap efisiensinya bisa naik. Jadi ekspansinya lebih ke output yang lebih efisien," jelasnya.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur siap pakai berdasarkan pesanan (job order), efisiensi menjadi kunci mati. PBRX baru akan memproses bahan baku setelah mengantongi pesanan dari pemilik merek (brand). Oleh sebab itu, ketepatan produksi dan pengelolaan modal kerja yang ketat menjadi penentu performa bottom line perusahaan.
Di tengah fluktuasi nilai tukar di mana mata uang dolar AS cenderung menguat terhadap rupiah, PBRX mengaku tidak terlalu terdampak secara ekstrem. Hal ini dikarenakan struktur keuangan perusahaan yang secara alami telah menerapkan lindung nilai (natural hedging).
"Untuk mata uang, kita memang banyak pakai US Dollar karena penjualan ekspor menggunakan US Dollar. Tetapi pembelian bahan baku sebagian besar, sekitar 60% sampai 65%, juga menggunakan US Dollar. Jadi sebenarnya kita natural hedge," kata Fitri.
Kendati biaya gaji karyawan (salary) berbasis Rupiah seolah terlihat lebih kecil saat Dolar menguat, Fitri menekankan bahwa yang paling dibutuhkan eksportir saat ini adalah stabilitas nilai tukar. "Isu utamanya adalah kestabilan. Kalau tidak stabil, buyer (pembeli) juga kadang menjadi khawatir," imbuhnya.
Hingga saat ini, pasar global seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia tetap menjadi tujuan utama ekspor PBRX. Di tahun 2026 ini, PBRX juga mengonfirmasi telah melakukan penjajakan dengan beberapa komitmen dari buyer baru untuk mendongkrak penjualan.
Related News
Bank Raya Dukung Inklusi Keuangan Digital Generasi Muda
BUMI Suntik Dana Arutmin, Pasar Cermati Proyek Hilirisasi Batu Bara
Bangun Cetak Biru Kedaulatan Digital, Telkom (TLKM) Perkuat Kolaborasi
Saham TUGU Digadang-gadang Bisa Naik Jadi Segini
Kabar Gembira untuk Investor BCA, Dividen Interim Dibagikan 26 Juni!
Wahana Inti Makmur (NASI) Targetkan Penjualan Rp66 Miliar di 2026





