EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin berhasil ditutup menguat. Itu seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mereda. Ya, sebelumnya indeks dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan jual akibat lonjakan imbal hasil obligasi.

Lompatan yield obligasi itu, dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi akibat ledakan harga minyak mentah di tengah eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah. Setelah sempat naik menjadi 4,818 persen, level tertinggi sejak November 2023, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun akhirnya ditutup turun lebih dari 1 bps menjadi 4,78 persen.

Imbal hasil obligasi dengan tenor 30 tahun juga turun dengan besaran setara menjadi 5,259 persen, sedang untuk obligasi jangka pendek bertenor 2 tahun susut lebih dari 2 bps menjadi 4,369 persen. Penguatan indeks bursa Wall Street, dan lonjakan harga beberapa komoditas seperti minyak mentah, nikel, emas, dan batu bara diprediksi menjadi sentimen positif pasar.

So, IHSG diprediksi bergerak menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Kamis, 3 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.545-6.495, dan resistance 6.645-6.700. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham ERAA, JPFA, ESSA, PSAB, ARCI, dan HRUM. (*)