EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kembali ditutup melemah. Itu merespon keputusan The Fed yang mengerek suku bunga acuan, dan penekanan gubernur The Fed Kevin Warsh soal persistensi angka inflasi. Setelah melakukan rapat selama dua hari, The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 3,75 persen sesuai dengan ekspektasi pasar.

Kenaikan suku bunga tersebut merupakan kali pertama sejak Juli 2023. Merespons keputusan The Fed, awalnya pasar bergerak menguat namun kemudian berbalik melemah di sepanjang konferensi pers gubernur The Fed Kevin Warsh yang mengatakan secara berulang kali bahwa risiko inflasi tidak membaik.

Merespons pernyataan dari Kevin Warsh, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun naik 2 bps menjadi 5,016 persen seiring kekhawatiran The Fed masih ketinggalan dari kurva inflasi meski sudah menaikkan suku bunga acuan 25 bps. Koreksi indeks bursa Wall Street dipicu kekhwatiran investor terhadap potensi lonjakan suku bunga acuan di waktu mendatang.

Itu seiring persisten angka inflasi diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, lonjakan harga beberapa komoditas seperti nikel, timah, batu bara, dan tembaga, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.380-6.320, dan resistance 6.495-6.550.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Japfa Comfeed (JPFA), Astra Agro Lestari (AALI), Merdeka Copper Gold (MDKA), Amman Mineral (AMMN), Alamtri Resources (ADRO), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG). (*)