EmitenNews.com - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat penambahan jumlah pemegang saham pemilik Single Investor Identification (SID) di sepanjang Oktober 2026, berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Efek (LBRE) terbaru perseroan.

Dalam laporan tersebut, manajemen BUMI merincikan penambahan 7.586 SID sepanjang bulan lalu. Dengan demikian, jumlah pemegang saham perusahaan batu bara kongsi Grup Bakrie-Salim Group tersebut naik menjadi 553.624 SID pada akhir Oktober 2026 dibanding akhir bulan sebelumnya sebanyak 546.038 SID.

Namun demikian, perseroan juga mencatat penurunan tipis porsi saham milik publik (free float) yaitu dari 43,11% pada akhir September 2026 menjadi 43,09% pada akhir Oktober 2026.

Emiten tambang dengan pemilik manfaat akhir Nirwan Dermawan Bakrie dan Anthony Salim itu juga melaporkan investor private equity paling banyak memiliki saham perseroan yaitu 183,48 miliar saham, disusul investor individu sebanyak 92,82 miliar saham, dan corporate 22,99 miliar saham.

Total jumlah saham BUMI yang tercatat di bursa hingga akhir Oktober 2026 adalah sebanyak 371,33 miliar saham.

Harga Saham Turun Tajam

Harga saham BUMI mencatat penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data RTI Business, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu harganya tercatat merosot 2,54% menjadi Rp115 per saham.

Dalam sebulan harganya bahkan telah anjlok 30,30%. Jika dilihat sepanjang tahun, harga saham BUMI nyungsep 68,58% year to date (YTD).

Penurunan harga saham BUMI berlangsung di tengah aksi akuisisi perusahaan pada aset-aset di luar negeri. Dalam dua bulan terakhir, perseroan melaporkan telah mengakuisisi beberapa aset non batubara.

Pada 23 Oktober 2026, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA), anak usaha yang didirikan berdasarkan hukum Australia yang 100% sahamnya dimiliki Perseroan, telah melakukan transaksi akuisisi atas sejumlah 2 lembar saham yang merupakan seluruh saham yang telah diterbitkan oleh Mount Margaret, suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Australia.