EmitenNews.com - Kinerja PT Tera Data Indonusa Tbk (AXIO) pada kuartal ketiga tahun 2026 sekilas menunjukkan pencapaian yang solid di baris paling atas laporan keuangannya. Perusahaan teknologi ini berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan usaha yang cukup meyakinkan. 

Namun, di balik angka triliunan yang tersaji, bedah data pada catatan atas laporan keuangan memperlihatkan struktur penopang pendapatan yang menyimpan kerentanan spesifik. Membaca kualitas laba AXIO saat ini menuntut kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar angka total yang menghijau, terutama terkait dari mana sebenarnya arus kas tersebut mengalir.

Pendapatan Mengalir Deras, Ritel Jadi Tulang Punggung

Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026, total pendapatan AXIO tercatat mencapai Rp1,36 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang positif jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, di mana pendapatan perusahaan berada di level Rp1,09 triliun. 

Kenaikan pada pos pendapatan ini juga diikuti dengan peningkatan laba kotor konsolidasi, yang naik dari Rp169,35 miliar menjadi Rp224,98 miliar.

Motor utama penggerak pertumbuhan ini bersumber dari segmen penjualan ritel yang menjadi andalan perusahaan. Pendapatan dari pasar ritel melaju dari Rp930,87 miliar menjadi Rp1,19 triliun. Segmen ini terbukti tangguh dengan mencetak laba kotor sebesar Rp182,31 miliar. 

Namun, performa kuat di pasar ritel ini tidak menular ke segmen komersial. Pendapatan dari penjualan komersial justru mengalami kontraksi, menyusut dari Rp136,74 miliar menjadi Rp124,20 miliar.

Beban Sewa Membengkak, Laba Operasional Segmen Justru Menyusut

Selain menjual perangkat keras, AXIO juga mencatatkan sumber pendapatan dari lini sewa dan pemeliharaan server serta alat teknologi informasi. Secara volume, segmen ini terlihat menjanjikan karena pendapatannya berhasil naik dari Rp26,16 miliar menjadi Rp44,50 miliar.

Sayangnya, masalah efisiensi muncul ketika kita melihat pos beban terkait. Beban pokok pendapatan untuk segmen sewa dan pemeliharaan membengkak cukup agresif, melompat dari Rp16,02 miliar menjadi Rp35,50 miliar.