EmitenNews.com - Bank Indonesia (BI) memprakirakan penjualan eceran pada Juni 2026 tetap terjaga dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 221,6 di tengah penurunan musiman setelah periode hari raya keagamaan.

Kinerja penjualan ritel pada Juni 2026 tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan positif penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Secara bulanan, penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan turun sebesar -0,8 persen (mtm).

Meskipun mencatat penurunan, angka kontraksi bulanan tersebut dinilai membaik dibandingkan dengan periode Mei 2026 yang turun sebesar -1,5 persen (mtm). Bank Indonesia mencatat bahwa perbaikan perkembangan penjualan eceran ini dipengaruhi oleh mulainya periode libur sekolah pada akhir Juni 2026.

Sebelumnya pada Mei 2026, IPR tercatat berada di level 223,4. Kinerja pada bulan Mei tersebut ditopang oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Penurunan bulanan sebesar -1,5 persen (mtm) pada Mei 2026 juga tercatat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan realisasi pada bulan April 2026 yang sempat turun tajam hingga -11,6 persen (mtm). Perkembangan pada bulan Mei dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

Dari sisi perkembangan harga, survei Bank Indonesia menunjukkan adanya potensi pergerakan inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Tekanan inflasi pada Agustus 2026 diprakirakan mengalami peningkatan, sementara tekanan harga pada November 2026 diproyeksikan akan relatif stabil.

Hal tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 yang tercatat sebesar 178,0. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada Juli 2026 yang sebesar 175,8, dengan dorongan utama berasal dari kenaikan harga bahan baku. Di sisi lain, IEH untuk bulan November 2026 diprakirakan berada di level 167,5, atau cenderung stabil apabila dibandingkan dengan IEH Oktober 2026 yang sebesar 167,6.

Data berkurangnya kontraksi penjualan ritel ini memberikan sinyal positif bagi pasar domestik dan investor mengenai stabilitas daya beli masyarakat Indonesia yang tetap kuat di tengah fase transisi musiman.(*)