EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda dibuka merosot 59 poin atau jatuh 0,33% ke level Rp18.073 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp18.014.

Tekanan terhadap mata uang domestik kian nyata seiring berlanjutnya koreksi dari hari-hari sebelumnya. Level psikologis baru di atas Rp18.000 kini menjadi tantangan berat bagi stabilitas sistem keuangan dalam negeri. Sentimen negatif hari ini diperparah oleh rilis data ekonomi domestik terbaru mengenai performa konsumsi masyarakat.

Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia, angka Penjualan Ritel Indonesia untuk periode Mei 2026 mencatatkan penurunan sebesar 3,9% secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan penurunan yang lebih dalam jika dibandingkan dengan rapor bulan April 2026 yang terkontraksi 3,7%. Lesunya performa retail berimbas pada pergerakan grafik USD/IDR di pasar global yang sempat menyentuh area fluktuasi Rp18.089 hingga Rp18.127 sepanjang sesi pagi.

Kondisi pelemahan di pasar spot langsung direspons oleh perbankan nasional yang ikut menyesuaikan kurs transaksi mereka. Hingga pukul 09.19 WIB, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan harga beli dolar AS di level e-rate sebesar Rp18.062 dan harga jual mencapai Rp18.082. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mematok special rate beli di angka Rp18.040 dan harga jual di Rp18.070 per dolar AS.

Para analis menilai, selain faktor data penjualan ritel yang di bawah ekspektasi, sentimen eksternal berupa ketahanan indeks dolar AS masih menjadi motor utama yang menekan mata uang negara berkembang. Pasar kini sedang mencermati langkah intervensi dari Bank Indonesia guna menjaga volatilitas rupiah agar tidak terdepresiasi terlalu jauh di sisa pekan perdagangan ini.(*)