Perang Berkecamuk, Gerak IHSG Menguat Terbatas

Para pelaku pasar tampak antusias menyimak pergerakan IHSG. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak mixed cenderung menguat terbatas. Sepanjang perdagangan hari ini, Selasa, 8 Oktober 2024, berdasar analisis teknikal, IHSG akan menjelajahi level support 7.410-7.460, dan resistance level 7.552-7.578.
Indikator RSI menunjukkan potensi penguatan, meski indikator MACD masih cenderung lemah. Faktor eksternal mendukung penguatan adalah kenaikan harga komoditas energi. Itu didorong ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Saham-saham sektor energi berpeluang mendapat dorongan positif.
Selain itu, pasar juga menantikan risalah FOMC dengan perkiraan masih dovish, memberi sentimen positif bagi pergerakan IHSG. Nah, menilik data dan fakta itu, StocKnow.id menjagokan sejumlah saham laik koleksi sebagai jujukan investasi. Antara lain yaitu menjadi sebagai berikut.
Sido Muncul (SIDO) Rp670 per saham dengan take profit Rp695-725, dan stop loss Rp650 per helai. Unilever (UNVR) Rp2.270 per lumbar dengan take profit Rp2.360-2.460 per lumbar, dan stop loss Rp2.180 per eksemplar.
BFI Finance (BFIN) Rp955 dengan take profit Rp995-1.040 per eksemplar, dan stop loss Rp915 per helai. Tjiwi Kimia (TKIM) 7.625 per helai dengan take profit Rp7.850-8.090 per saham, dan stop loss di level Rp7.425 per lembar.
Surya Citra Media (SCMA) Rp127 dengan take profit Rp133 per saham, dan stop loss Rp140 per helai. Mengakhiri perdagangan Senin, 7 Oktober 2024, IHSG melejit 8,04 poin alias 0,11 persen menjadi 7.504. Volume perdagangan 23,3 miliar saham senilai Rp10,9 triliun. (*)
Related News

Malaysia Cabut Bea Masuk Anti Dumping Serat Selulosa Asal Indonesia

PLN Pertahankan Status Siaga Kelistrikan Hingga 11 April

Kemenperin Rilis Peta Jalan Hilirisasi untuk Pacu Swasembada Aspal

Investasi Tembus Rp206 Triliun, Industri Agro Serap 9,3 Juta Naker

Diskon Biaya Listrik 50 Persen Berakhir, Maret Berlaku Tarif Normal

Konsumsi Solar Turun 19 Persen Dampak Pembatasan Operasional Truk