EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin anjlok 2,66 persen menjadi 8.016. Eskalasi geopolitik membuat investor cenderung menghindari aset-aset berisiko. Lompatan harga minyak mentah memicu kekhawatiran potensi peningkatan inflasi berpotensi mengerek suku bunga. 

Namun, mayoritas saham-saham energi, dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan indeks lebih lanjut. Rupiah spot ditutup melemah di level Rp16.868 per dolar Amerika Serikat (USD), sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia.

Inflasi Februari 2026 meningkat 0,68 persen MoM dari edisi Januari 2026 dengan deflasi 0,15 persen MoM. Inflasi itu, terutama dikontribusi lonjakan kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau, merupakan penyebab utama andil inflasi setiap momen Ramadan. 

Inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76 persen YoY Februari 2026 dari 3,55 persen YoY, karena ada diskon tarif listrik pada awal 2025. Sementara itu, surplus neraca perdagangan Februari 2026 turun menjadi USD0,95 miliar dari posisi Januari 2026 di kisaran USD3,49 miliar, akibat kenaikan impor 18,21 persen YoY, dan ekspor hanya tumbuh 3,39 persen YoY. 

Manufacturing PMI Indonesia Februari 2026 naik menjadi 53.8 dari Januari 2026 di level 52.6. Secara teknikal, indeks masih bertahan di atas level psikologis 8.000 dan masih di atas level MA200. Namun penyempitan histogram positif MACD berlanjut, dan berpotensi membentuk death cross. 

Kalau indeks breaklow level 8.000, diperkirakan berpotensi menguji level support 7.860, dan resistane 7.900. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham Aneka Tambang (ANTM), Essa Industries (ESSA), Bukit Asam (PTBA), Lonsum (LSIP), dan Indika Energy (INDY). (*)