EmitenNews.com - Trump Media & Technology Group (TMTG) resmi meluncurkan Truth API, layanan data berbayar guna memberi keunggulan sepersekian detik bagi pelaku pasar membaca unggahan Presiden Donald Trump mulai 1 Agustus.

Langkah komersialisasi komunikasi resmi kepresidenan ini menjadi sorotan tajam karena unggahan Trump kerap memicu volatilitas hebat di pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia (BEI). Dilansir dari Finance.biggo.com, produk baru ini menyediakan akses waktu nyata beberapa milidetik lebih cepat sebelum mencapai publik untuk 10 akun teratas di Truth Social, termasuk akun personal Trump (@realDonaldTrump) dan Gedung Putih.

Pejabat CEO sementara TMTG, Kevin McGurn, memproyeksikan layanan ini akan menjadi mesin pendapatan baru bagi perusahaan yang sedang merugi tersebut.

“Pasar sudah bereaksi terhadap unggahan Truth Social. Seiring pertumbuhan adopsi, kami berharap Truth API akan menjadi sumber pendapatan yang signifikan dan berkelanjutan bagi perusahaan,” kata McGurn dalam pernyataan resminya.

Langkah ini langsung memicu kritik keras terkait potensi konflik kepentingan demi keuntungan pribadi. Ahli etika pemerintahan di Fakultas Hukum Universitas Washington, Kathleen Clark, menilai Trump secara vulgar memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri. Donald J. Trump Revocable Trust tercatat memegang 114,75 juta saham TMTG atau sekitar 41% dari seluruh saham beredar.

Bagi investor di dalam negeri, kecepatan akses informasi ini sangat krusial mengingat algoritma perdagangan frekuensi tinggi global dapat langsung mengeksekusi posisi pada komoditas dan saham terkait sebelum trader retail Indonesia sempat membaca berita. Sebagai contoh, taruhan senilai setengah miliar USD di pasar minyak sempat terjadi 15 menit sebelum Trump mengunggah status mengenai Iran, yang langsung menjatuhkan harga minyak mentah dunia.

Secara kinerja keuangan, TMTG tengah berjuang keras keluar dari tekanan. Perusahaan mencatatkan kerugian bersih sebesar 405 juta USD pada kuartal pertama 2026. Di pasar, saham TMTG ditutup turun sekitar 3% ke level 9,28 USD per lembar setelah pengumuman tersebut diluncurkan.(*)