EmitenNews.com - Biro Pusat Statistik (NBS) Tiongkok melaporkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor manufaktur naik menjadi 50,3 dan non-manufaktur meningkat ke 50,2 pada Juni 2026, yang melampaui ekspektasi pasar.

Berdasarkan data Trading Economics, angka PMI manufaktur ini naik dari posisi 50,0 pada Mei lalu, sekaligus menandai ekspansi aktivitas pabrik selama empat bulan berturut-turut. Pertumbuhan ini didorong oleh percepatan output yang mencapai 51,4 dari sebelumnya 51,2. Selain itu, pesanan baru berbalik ekspansif ke level 51,2 setelah sempat terkontraksi di angka 49,9 pada bulan sebelumnya. Pesanan dari luar negeri juga kembali menguat ke posisi 50,1 dari 48,6.

Meskipun aktivitas pembelian tumbuh ke 51,4 dan sentimen bisnis menguat ke 54,3, penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur terpantau masih lesu di angka 48,4. Dari sisi harga, inflasi biaya input mereda ke level 54,2, sementara harga output justru turun untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir ke posisi 48,2.

Sektor Jasa Menguat, Konstruksi Membaik
Sementara itu, PMI non-manufaktur resmi tercatat naik tipis ke level 50,2 dari posisi 50,1 pada Mei 2026. Angka ini mematahkan ekspektasi pasar yang memproyeksikan penurunan ke zona kontraksi di level 49,9. Stabilisasi ini didorong oleh sektor jasa yang naik ke 50,4, terutama berkat kuatnya aktivitas telekomunikasi, perangkat lunak internet, layanan TI, keuangan, dan asuransi yang seluruhnya berada di atas level 55,0. Sebaliknya, sektor transportasi udara dan real estat masih tertahan di bawah level 50.

Pesanan baru di sektor non-manufaktur meningkat signifikan ke angka 48,0 dari sebelumnya 45,0. Indeks ekspektasi bisnis juga ikut terkerek naik menjadi 55,3 dari 54,8.

Pemulihan ekonomi Tiongkok sebagai mitra dagang utama ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam menjaga stabilitas permintaan ekspor komoditas dan produk manufaktur nasional ke negeri tirai bambu tersebut.(*)