EmitenNews.com - Mata uang yen Jepang anjlok ke level terendah dalam 40 tahun terakhir di angka 161,98 per dolar AS di New York pada Senin (29/6) akibat spekulasi suku bunga Federal Reserve.

Kejatuhan ini menembus ambang batas psikologis sebelumnya sebesar 161,96 per dolar AS yang ditetapkan pada Juli 2024. Penurunan tajam mata uang Jepang ini mencerminkan kuatnya spekulasi pasar bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga akhir tahun ini, dipicu inflasi akibat perang Iran dan pemulihan pasar tenaga kerja AS. Krisis tersebut turut mendorong permintaan dolar AS sebagai aset safe-haven.

Selain tekanan eksternal, seperti dilaporkan Bloomingbit aksi jual yen meningkat setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memberi sinyal kebijakan pelonggaran moneter. Kebijakan pengetatan kontrol ekspor China terhadap perusahaan Jepang yang baru-baru ini diterapkan ikut memperburuk situasi ekonomi negara tersebut.

Meskipun Bank Sentral Jepang (BOJ) telah menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1 persen pada 16 Juni—level tertinggi sejak 1995—langkah ini gagal membendung tekanan jual. Suku bunga riil yang disesuaikan dengan inflasi tetap rendah sehingga tidak mampu mengimbangi pertumbuhan harga.

Pelemahan nilai tukar ini juga memicu kekhawatiran domestik. Walaupun menguntungkan eksportir dan mendorong bursa saham Jepang ke rekor tertinggi, pelemahan yen meningkatkan biaya impor komoditas penting dalam denominasi dolar AS seperti minyak mentah dan gas alam. Akibatnya, lonjakan biaya hidup terjadi pada sektor makanan hingga listrik, yang membebani rumah tangga dan mengancam popularitas PM Takaichi.

Kondisi ini menjadi tantangan besar mengingat pemerintah Jepang sebelumnya telah menghabiskan 11,73 triliun yen atau sekitar 74 miliar dolar AS (USD) dari 28 April hingga 27 Mei untuk intervensi pasar terbesar sepanjang sejarah.

Pejabat pemerintah, Katayama, menyatakan bahwa Jepang siap mengambil "tindakan berani" untuk mengekang pergerakan spekulatif yang berlebihan di pasar valuta asing. Namun, media penyiaran NHK memperingatkan bahwa pasar kini berada di wilayah yang belum dipetakan tanpa titik referensi grafik yang jelas.

Bagi Indonesia, pelemahan ekstrem yen dan penguatan dolar AS ini mempertegas volatilitas pasar keuangan global yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah serta biaya logistik kemitraan dagang di kawasan Asia.(*)