EmitenNews.com -Memasuki penghujung Agustus 2025, perhatian sebagian besar pelaku pasar modal tersedot pada rilis data kinerja emiten kuartal kedua dan data-data ekonomi bulanan. Kita sibuk menganalisis angka pertumbuhan laba, menimbang valuasi, dan memprediksi arah inflasi.

Namun, di tengah kesibukan kita membaca data ekonomi, seringkali kita mengabaikan sebuah 'gema' penting yang datang dari panggung lain, yaitu panggung politik. Gema ini, meskipun terkadang terdengar sayup-sayup, memiliki kekuatan untuk menciptakan gelombang yang mampu menggerakkan seluruh pasar.

Bagi banyak investor pemula, politik sering dianggap sebagai 'kebisingan' atau noise yang tidak relevan dengan keputusan investasi. Opini saya, pandangan ini kurang tepat. Stabilitas politik dan arah kebijakan yang jelas adalah fondasi fundamental yang tidak terlihat, namun di atasnya lah gedung perekonomian dan pasar modal yang sehat berdiri. Tanpa fondasi yang kokoh ini, angka-angka ekonomi secemerlang apapun bisa menjadi rapuh. Saat ini, di panggung politik nasional, sedang berlangsung sebuah dinamika krusial yang akan sangat menentukan arah angin bagi IHSG di sisa tahun ini dan tahun depan.

Kondisi Politik Terkini : Debat Anggaran 2026 dan Ujian Soliditas Koalisi

Saat ini, sorotan utama di panggung politik tertuju pada proses pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk tahun 2026 di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Setelah pemerintah menyampaikan nota keuangan dan draf anggarannya pada pertengahan Agustus lalu, kini bola panas berada di tangan para legislator di Senayan. Proses inilah yang menjadi ujian sesungguhnya bagi agenda ekonomi pemerintah ke depan. Dari pengamatan saya, ada dua isu utama yang menjadi pusat perdebatan dan perlu dicermati oleh para investor.

Pertama adalah adanya pertarungan alokasi antara pos-pos belanja yang bersifat populis dengan proyek-proyek investasi jangka panjang. Terdapat dorongan kuat dari beberapa fraksi untuk memperbesar alokasi anggaran untuk bantuan sosial dan subsidi, sebuah langkah yang populer secara elektoral. Di sisi lain, pemerintah memiliki agenda untuk melanjutkan proyek- proyek strategis nasional yang padat modal, seperti pembangunan infrastruktur konektivitas dan hilirisasi industri, yang membutuhkan alokasi anggaran yang juga sangat besar. Tarik-menarik antara kebutuhan jangka pendek dan investasi jangka panjang ini akan menentukan kualitas belanja negara tahun depan.

Kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah dinamika internal di dalam koalisi partai pendukung pemerintah. Beberapa partai kunci dalam koalisi mulai menunjukkan sikap kritis dan mengajukan syarat-syarat tertentu agar mendukung penuh draf anggaran dari pemerintah. Ini adalah hal yang wajar dalam politik, namun tingkat soliditas koalisi saat ini sedang diuji. Seberapa efektif pemerintah mampu menjaga kekompakan barisannya akan menentukan seberapa mulus agenda-agenda ekonomi mereka bisa berjalan.

Terjemahan Politik ke Ekonomi : Mengapa Investor Perlu Peduli

Lalu, bagaimana drama politik ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa ekonomi dan investasi? Pengaruhnya sangat langsung dan fundamental. 

Pertama, kepastian kebijakan (policy certainty)

Dunia usaha membenci ketidakpastian. Jika proses pembahasan anggaran di DPR berjalan alot, berlarut-larut, dan penuh dengan kompromi yang mengubah drastis rencana awal pemerintah, para pelaku usaha akan mengambil sikap wait and see. Rencana ekspansi pabrik, pembukaan cabang baru, atau proyek investasi besar lainnya bisa ditunda. Mereka perlu kepastian mengenai arah kebijakan pajak, aturan subsidi, dan prioritas proyek pemerintah sebelum berani mengeluarkan modal besar.

Kedua, disiplin fiskal (fiscal discipline)

Bagaimana hasil akhir dari pertarungan alokasi anggaran akan menjadi cerminan dari disiplin fiskal kita. Jika anggaran final nantinya terlalu berat pada belanja yang tidak produktif (seperti subsidi yang tidak tepat sasaran) dan mengorbankan investasi yang bisa menciptakan pertumbuhan jangka panjang, ini bisa menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor global. Persepsi mengenai kesehatan fiskal Indonesia bisa menurun, yang berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dan meningkatkan imbal hasil obligasi negara, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pasar saham.

Ketiga, stabilitas pemerintahan. Ujian soliditas koalisi adalah barometer stabilitas

Pemerintahan yang stabil dan didukung oleh koalisi yang solid akan lebih mudah dalam mengeksekusi kebijakan dan reformasi struktural. Sebaliknya, jika koalisi terlihat rapuh dan sering terjadi konflik internal, ini akan menciptakan persepsi bahwa pemerintah tidak efektif dan berisiko mengalami kebuntuan politik (gridlock).

Dampak Sektoral : Siapa yang Diuntungkan dan Dirugikan?

Sebagai investor saham, kita perlu mampu memetakan dampak dari berbagai skenario politik ini ke sektor-sektor spesifik di IHSG. Jika hasil akhir dari debat anggaran nantinya lebih memihak pada tuntutan populis dengan alokasi bantuan sosial yang besar, sektor saham barang konsumsi (consumer goods) dan ritel mungkin akan mendapatkan sentimen positif jangka pendek. Peningkatan daya beli di lapisan masyarakat bawah bisa mendorong penjualan produk-produk mereka.